Militer Iran mengklaim telah berhasil melancarkan serangan drone terhadap sejumlah fasilitas militer strategis milik Amerika Serikat yang berlokasi di Pangkalan Udara Ahmed Al Jaber, Kuwait. Serangan ini dilaporkan terjadi pada hari Rabu (24/1/2024).
Pihak Iran menyatakan bahwa target yang diserang meliputi fasilitas satelit dan gudang senjata militer AS. Klaim ini disampaikan melalui saluran Telegram yang terafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), memberikan detail mengenai sasaran serangan.
Namun, klaim dari pihak Iran ini dibantah keras oleh pejabat militer Amerika Serikat. Juru Bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Mayor Jenderal Joe Buccino, menegaskan bahwa tidak ada serangan yang terjadi di Pangkalan Udara Ahmed Al Jaber. “Laporan mengenai serangan terhadap Pangkalan Udara Ahmed Al Jaber di Kuwait adalah salah. CENTCOM tidak melihat adanya bukti serangan,” ujar Mayor Jenderal Joe Buccino dalam pernyataannya.
Militer Iran juga mengklaim telah menghancurkan beberapa target penting lainnya di Pangkalan Udara Ali Al Salem, yang juga berada di Kuwait. Pernyataan Iran menyebutkan bahwa serangan tersebut merupakan respons terhadap dugaan keterlibatan AS dalam konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Sementara itu, media negara Kuwait melaporkan bahwa sistem pertahanan udara negara itu telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone yang melintas di wilayah udara Kuwait pada hari yang sama, Rabu (24/1/2024). Laporan tersebut tidak merinci asal maupun tujuan drone tersebut, namun kejadian ini menambah ketegangan di kawasan.
Ketegangan di Timur Tengah meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir, menyusul serangan di Yordania yang menewaskan tiga tentara Amerika Serikat pada Minggu (28/1/2024). Kelompok milisi yang didukung Iran di Irak dan Suriah telah dituding bertanggung jawab atas serangan tersebut. Amerika Serikat berjanji akan membalas serangan tersebut.
