Perekonomian Amerika Serikat (AS) menunjukkan perlambatan pada kuartal kedua tahun 2026, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) hanya tumbuh sebesar 1,5%. Angka ini lebih rendah dari ekspektasi para analis dan menandai penurunan laju pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya. Namun, di tengah perlambatan ekonomi makro tersebut, daya beli dan belanja konsumen Amerika justru menunjukkan ketahanan yang mengejutkan.
Data yang dirilis oleh Biro Analisis Ekonomi AS pada 25 Juli 2026 mengungkapkan bahwa perlambatan pertumbuhan PDB ini sebagian besar dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk penurunan investasi bisnis dan belanja pemerintah. Investasi non-perumahan, yang seringkali menjadi indikator kesehatan investasi korporat, mengalami kontraksi. Selain itu, belanja pemerintah juga tidak memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Meskipun demikian, sektor konsumsi rumah tangga tetap menjadi pilar utama perekonomian AS. Belanja konsumen, yang menyumbang porsi terbesar dari PDB, terus menunjukkan pertumbuhan yang solid. Hal ini tercermin dari data penjualan ritel yang tetap kuat dan indikator kepercayaan konsumen yang masih berada pada level yang positif. Para ekonom mengaitkan ketahanan konsumsi ini dengan kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil dan tingkat pengangguran yang masih rendah.
Salah satu indikator yang menonjol adalah lonjakan belanja konsumen untuk barang-barang tahan lama seperti otomotif dan peralatan rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa rumah tangga Amerika masih memiliki keyakinan untuk melakukan pembelian besar, meskipun prospek ekonomi secara keseluruhan tampak melambat. Data ini juga didukung oleh laporan dari perusahaan-perusahaan ritel besar yang melaporkan penjualan yang melampaui prediksi.
Gubernur Federal Reserve, Jerome Powell, dalam pernyataannya pada 26 Juli 2026, mengakui adanya perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi namun menekankan bahwa data konsumsi memberikan sinyal positif. “Kami memantau dengan cermat semua data ekonomi. Perlambatan pertumbuhan PDB memang terlihat, namun kekuatan belanja konsumen adalah faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan kebijakan moneter selanjutnya,” ujar Powell.
Analis ekonomi dari Moody’s Analytics, Mark Zandi, berpendapat bahwa situasi ini menciptakan gambaran yang kompleks bagi para pembuat kebijakan. “Kita melihat ekonomi melambat secara agregat, namun di sisi lain, konsumen masih berbelanja dengan cukup agresif. Ini bisa menjadi tanda bahwa perlambatan ini mungkin bersifat sementara atau bahwa ada kekuatan mendasar dalam ekonomi AS yang belum terlihat sepenuhnya dari angka PDB kuartalan,” jelas Zandi.
Pemerintah AS sendiri melalui Menteri Keuangan, Janet Yellen, menyatakan bahwa mereka terus berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kebijakan fiskal. Yellen menambahkan, “Kami berkomitmen untuk memastikan bahwa ekonomi AS tetap kuat dan berkelanjutan. Kami akan terus mengevaluasi langkah-langkah yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan lapangan kerja.”
