Perubahan iklim yang menyebabkan malam menjadi lebih panas terbukti berdampak signifikan terhadap penurunan durasi tidur masyarakat di berbagai penjuru dunia. Sebuah studi terbaru menyoroti bagaimana suhu udara yang meningkat di malam hari secara langsung memengaruhi pola tidur, mengurangi waktu istirahat yang dibutuhkan tubuh.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances ini menganalisis data tidur dari 47.000 partisipan yang tersebar di 68 negara selama tujuh tahun terakhir. Para peneliti menemukan bahwa kenaikan suhu udara rata-rata sebesar 1 derajat Celsius di malam hari berkorelasi dengan hilangnya sekitar 18 menit waktu tidur per malam.
Dampak ini ternyata lebih terasa pada kelompok masyarakat tertentu. Studi mengungkap bahwa lansia dan perempuan cenderung mengalami penurunan waktu tidur yang lebih signifikan dibandingkan kelompok usia dan jenis kelamin lainnya. Hal ini mengindikasikan adanya kerentanan biologis yang berbeda dalam merespons suhu panas di malam hari.
Salah satu penulis studi, Dr. Kelton Minor dari University of Copenhagen, menjelaskan, “Data yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa suhu yang lebih tinggi di malam hari secara konsisten mengurangi jumlah jam tidur yang didapatkan orang. Dampak ini lebih besar pada negara-negara yang lebih hangat dan pada orang-orang yang lebih tua.”
Perubahan iklim global telah menyebabkan peningkatan suhu udara secara keseluruhan, termasuk pada malam hari. Fenomena ini bukan hanya sekadar ketidaknyamanan, melainkan juga memiliki konsekuensi serius terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Kurang tidur kronis dapat memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari penurunan fungsi kognitif, gangguan suasana hati, hingga peningkatan risiko penyakit kronis.
Para peneliti menyarankan agar langkah-langkah mitigasi perubahan iklim segera diambil untuk meminimalkan dampak negatifnya terhadap kualitas tidur. Selain itu, kesadaran akan pentingnya menjaga suhu ruangan tetap nyaman di malam hari, terutama bagi kelompok rentan, juga perlu ditingkatkan.
