Afrika Kembali Didera Wabah Ebola: Ratusan Tewas di Kongo dan Uganda, Tradisi Keluarga Jadi Tantangan

Rini Widiyarti

Krisis kesehatan global kembali menyorot Afrika Tengah. Wabah virus Ebola yang melanda Republik Demokratik Kongo dan Uganda telah merenggut nyawa 246 orang, memicu kekhawatiran internasional akan potensi penyebaran yang lebih luas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyoroti pola penularan yang tragis, di mana sebagian besar kasus muncul dari anggota keluarga yang merawat orang terdekat yang terinfeksi.

Dilema moral yang dihadapi masyarakat di wilayah terdampak sangat pelik. Di satu sisi, naluri untuk merawat dan mendampingi keluarga yang sakit sangat kuat, namun di sisi lain, tindakan tersebut berisiko tinggi menyebabkan penularan virus yang mematikan. Tanpa protokol medis yang memadai, kontak dengan cairan tubuh penderita Ebola dapat berujung fatal. Kasus fatalitas Ebola sendiri sangat tinggi, berkisar antara 50 hingga 90 persen, jauh melampaui tingkat kematian Covid-19, meskipun penyebarannya tidak secepat pandemi yang melanda dunia beberapa tahun lalu.

Republik Demokratik Kongo memiliki catatan panjang terkait wabah Ebola. Sejak virus ini pertama kali diidentifikasi di dekat Sungai Ebola pada tahun 1976, negara ini telah menghadapi lebih dari selusin wabah. Salah satu wabah terbesar terjadi antara 2018-2020 di provinsi timur Kongo, menyebabkan lebih dari 2.200 kematian, menjadikannya wabah Ebola terbesar kedua dalam sejarah setelah epidemi Afrika Barat 2014-2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 jiwa. Luasnya wilayah Kongo, ditambah dengan infrastruktur kesehatan yang terbatas dan konflik bersenjata di beberapa daerah, serta mobilitas penduduk yang tinggi, menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran virus.

Uganda, yang berbatasan langsung dengan Kongo bagian timur, kerap terdampak akibat penyebaran lintas batas atau "spillover" dari wabah di negara tetangganya. Kedekatan geografis, hubungan perdagangan, dan pergerakan masyarakat di sepanjang perbatasan membuat upaya pengendalian penyebaran menjadi tugas yang sangat kompleks. Virus Ebola, yang termasuk dalam keluarga Filoviridae, menular melalui kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau jaringan dari orang atau hewan yang terinfeksi. Masa inkubasi virus ini berkisar antara 2 hingga 21 hari, dengan gejala awal yang seringkali menyerupai flu, seperti demam dan sakit kepala, yang dapat menunda diagnosis.

Realitas sosial-budaya menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan wabah Ebola. Di banyak komunitas di Afrika Tengah, tradisi merawat anggota keluarga yang sakit di rumah masih mengakar kuat. Tanpa pemahaman yang memadai mengenai risiko penularan atau akses terhadap alat pelindung diri (APD), anggota keluarga sering kali menjadi korban berikutnya. Praktik pemakaman tradisional, yang melibatkan kontak fisik erat dengan jenazah, juga berkontribusi signifikan terhadap penyebaran. WHO dan organisasi kesehatan lainnya terus berupaya mengedukasi masyarakat mengenai praktik pemakaman yang aman, namun mengubah tradisi yang telah berlangsung turun-temurun memerlukan pendekatan yang sensitif dan waktu.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, berulang kali menekankan pentingnya pendekatan yang komprehensif. "Kita tidak bisa hanya fokus pada aspek biomedis," ujarnya. "Kita harus bekerja dengan komunitas, memahami nilai-nilai mereka, dan menemukan cara untuk melindungi kesehatan tanpa menghilangkan martabat dan tradisi mereka." Saat ini, lima pasien dilaporkan dalam kondisi kritis, menandakan bahwa kasus aktif masih terus berlangsung dan potensi peningkatan korban masih sangat nyata. Sistem kesehatan di kedua negara beroperasi dalam kondisi darurat, dengan unit isolasi dan rumah sakit lapangan didirikan untuk menampung lonjakan pasien.

Menghadapi situasi ini, WHO telah mengaktifkan protokol respons darurat internasional. Tim ahli dikirim ke wilayah terdampak untuk melakukan surveilans epidemiologi, kontrol infeksi, dan dukungan logistik. Vaksin Ebola, khususnya rVSV-ZEBOV, kini didistribusikan melalui strategi vaksinasi cincin (ring vaccination) untuk melindungi orang-orang yang berisiko tinggi tertular. Strategi ini melibatkan pemberian vaksin kepada kontak langsung pasien terinfeksi dan kontak dari kontak mereka untuk menciptakan "cincin" perlindungan yang memutus rantai penularan.

Namun, implementasi vaksinasi menghadapi berbagai kendala. Vaksin Ebola memerlukan penyimpanan pada suhu yang sangat rendah, sebuah tantangan di wilayah dengan infrastruktur listrik yang terbatas. Mobilisasi masyarakat juga menjadi hambatan besar, terutama di daerah konflik atau wilayah terpencil dengan akses jalan yang buruk dan kondisi keamanan yang tidak menentu. Kepercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan menjadi faktor krusial, mengingat adanya penolakan bahkan serangan terhadap tim medis dalam wabah sebelumnya, yang dipicu oleh disinformasi dan ketakutan.

Untuk mengatasi hal ini, WHO bekerja sama erat dengan pemimpin adat dan tokoh agama setempat guna membangun kepercayaan. Pendekatan partisipatif yang melibatkan komunitas dalam perencanaan dan pelaksanaan respons terbukti lebih efektif. Koordinasi lintas batas antara Kongo dan Uganda juga diperkuat, dengan berbagi data surveilans secara real-time dan pembentukan tim respons cepat di wilayah perbatasan. Meskipun demikian, pendanaan tetap menjadi tantangan signifikan. Respons komprehensif terhadap wabah Ebola memerlukan sumber daya finansial yang besar untuk pengadaan vaksin, APD, pembangunan fasilitas isolasi, dan kompensasi bagi petugas kesehatan. Komunitas internasional diharapkan memberikan dukungan tidak hanya dalam bentuk bantuan teknis, tetapi juga komitmen finansial jangka panjang demi penguatan sistem kesehatan dasar di negara-negara rentan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All