Gempa bumi bermagnitudo 6,4 mengguncang wilayah Simalungun, Sumatera Utara, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera memberikan penjelasan mengenai penyebab dan jenis gempa yang terjadi, sekaligus menenangkan masyarakat terkait potensi tsunami.
Menurut BMKG, gempa yang berpusat di darat ini disebabkan oleh aktivitas sesar lokal. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Daryono, menjelaskan bahwa gempa tersebut merupakan gempa bumi dangkal yang dipicu oleh pergerakan sesar aktif di daratan. “Gempa ini terjadi akibat aktivitas sesar lokal yang teridentifikasi di wilayah tersebut,” ujar Dr. Daryono dalam keterangan persnya.
BMKG mengonfirmasi bahwa gempa yang terjadi tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Hal ini dikarenakan episentrum gempa berada di darat dan tidak menyebabkan pergeseran dasar laut yang signifikan. “Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai tsunami,” tegas Dr. Daryono.
Lebih lanjut, Dr. Daryono merinci bahwa gempa tersebut termasuk dalam kategori gempa bumi tektonik. Gempa tektonik adalah gempa yang disebabkan oleh pergerakan lempeng-lempeng tektonik bumi. Namun, dalam kasus gempa Simalungun ini, sumbernya lebih spesifik berasal dari sesar lokal yang berada di dalam kerak bumi, bukan dari subduksi lempeng tektonik utama.
Pasca gempa utama, BMKG terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa susulan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan signifikan maupun korban jiwa akibat gempa tersebut. BMKG mengimbau warga untuk tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang terkait keselamatan pasca gempa.
