Thursday, 23 July 2026
BREAKING
EKONOMI

Rupiah Tertekan Eskalasi Laut Merah, Dolar AS Menguat ke Rp17.936

Oleh Yohanes July 23, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami pelemahan pada penutupan perdagangan Kamis, 23 Juli 2026. Mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.936 per dolar AS, menunjukkan tekanan dari sentimen negatif global.

Pemicu utama pelemahan rupiah kali ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi ini memicu kekhawatiran serius mengenai potensi gangguan pasokan energi global, yang secara langsung berdampak pada stabilitas pasar keuangan internasional.

Analis pasar keuangan, Riska Amalia, menyoroti bahwa eskalasi di Laut Merah menjadi sentimen negatif yang dominan. “Ketidakpastian di jalur pelayaran vital seperti Laut Merah selalu menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan biaya logistik dan potensi kelangkaan pasokan, terutama untuk komoditas energi,” ujar Riska.

Dampak dari ketegangan ini tidak hanya terasa pada rupiah, tetapi juga pada mata uang negara berkembang lainnya. Investor cenderung beralih ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) seperti dolar AS, yang mengakibatkan penguatan mata uang Paman Sam tersebut di pasar global.

Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, rupiah sempat berada di kisaran Rp17.920 per dolar AS. Namun, seiring dengan perkembangan berita mengenai eskalasi di Laut Merah, sentimen pasar mulai bergeser dan menekan rupiah.

Meskipun demikian, Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI, Budi Santoso, menyatakan bahwa BI terus memantau perkembangan pasar secara cermat dan siap melakukan intervensi jika diperlukan untuk meredam volatilitas yang berlebihan.

“Kami memahami bahwa faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik memiliki pengaruh signifikan. Namun, fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga, dan kami berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar demi mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” tegas Budi dalam keterangan terpisah.

Dalam situasi pasar yang bergejolak ini, pelaku pasar dihimbau untuk tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan global serta kebijakan yang diambil oleh otoritas moneter.

Bagikan: Facebook X WhatsApp