Mitos Minum Sirup untuk Penderita Liver: Klarifikasi Penting dari Ahli Hepatologi

Heni Maulidya

Penyakit liver, atau gangguan fungsi hati, dapat disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari infeksi virus seperti hepatitis, hingga kondisi metabolik seperti perlemakan hati, sirosis, dan bahkan kanker hati. Di tengah berbagai informasi yang beredar, muncul anggapan populer bahwa penderita liver, khususnya yang mengalami sakit kuning, dianjurkan untuk mengonsumsi sirup atau makanan serta minuman manis lainnya. Anggapan ini seringkali berdampingan dengan pantangan mengonsumsi makanan berlemak. Namun, benarkah kedua anjuran tersebut didasarkan pada fakta medis?

Menjawab keraguan publik, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. Rino Alvani Gani, memberikan penjelasan mendalam mengenai asal-usul dan validitas medis dari anggapan tersebut. Menurut Dr. Rino, keyakinan bahwa penderita liver harus mengonsumsi sirup atau minuman manis berakar pada pemahaman mengenai fungsi hati sebagai organ penyimpan cadangan gula dalam tubuh.

Secara fisiologis, gula yang masuk ke dalam tubuh diolah menjadi energi. Apabila terdapat kelebihan gula yang tidak segera digunakan, tubuh akan menyimpannya dalam bentuk glikogen di hati. Ketika fungsi hati terganggu, kemampuan organ ini untuk menyimpan glikogen bisa berkurang, sehingga penderita berisiko mengalami kadar gula darah rendah atau hipoglikemia. Fenomena inilah yang kemudian melahirkan anjuran untuk memberikan asupan manis, termasuk sirup, kepada penderita liver agar kadar gula darah tetap stabil.

Namun, Dr. Rino menegaskan bahwa praktik memberikan sirup atau minuman manis kepada penderita liver kini tidak lagi direkomendasikan. Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki mekanisme yang sangat canggih dan adaptif dalam mempertahankan konsentrasi gula darah yang stabil. Cadangan energi tidak hanya bergantung pada glikogen hati, melainkan juga dapat diambil dari cadangan lemak maupun protein dalam tubuh.

Lebih lanjut, Dr. Rino menekankan potensi risiko yang justru dapat ditimbulkan oleh konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan pada penderita liver. Pemberian asupan manis yang tidak terkontrol justru dapat memicu atau memperparah kondisi perlemakan hati (fatty liver) serta berkontribusi pada peningkatan berat badan yang tidak sehat, bahkan obesitas. Kondisi obesitas sendiri merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk penyakit liver yang sudah ada.

"Repotnya kalau memberikan makanan yang manis-manis itu justru bisa menimbulkan perlemakan dari hati ataupun perlemakan di tempat lain, dan dapat memperparah kondisi obesitas yang terjadi," ujar Dr. Rino saat ditemui di Jakarta Pusat, Kamis (11/6). Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan nutrisi yang lebih terukur dan berbasis bukti ilmiah, bukan sekadar tradisi atau anggapan populer.

Di sisi lain, pantangan mengonsumsi makanan berlemak bagi penderita liver memiliki dasar medis yang lebih kuat. Hati memainkan peran krusial dalam metabolisme lemak. Ketika hati mengalami peradangan atau kerusakan, kemampuannya untuk memproses lemak akan menurun. Mengonsumsi makanan tinggi lemak, terutama lemak jenuh dan lemak trans, dapat memberikan beban tambahan pada hati yang sudah lemah, sehingga memperlambat proses penyembuhan dan berpotensi memperparah kerusakan.

Makanan berlemak yang perlu dihindari antara lain gorengan, jeroan, kulit ayam, daging merah berlemak, santan kental, serta produk olahan susu tinggi lemak seperti mentega dan keju. Sebagai gantinya, penderita liver disarankan mengonsumsi makanan yang lebih mudah dicerna dan kaya nutrisi, seperti buah-buahan segar, sayuran hijau, ikan air tawar, dada ayam tanpa kulit, dan biji-bijian utuh.

Selain pola makan, informasi mengenai konsumsi obat herbal atau ramuan tradisional saat sakit liver juga kerap menjadi pertanyaan. Banyak masyarakat meyakini bahwa ramuan herbal dapat menjadi alternatif pengobatan yang aman dan efektif. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua herbal aman dikonsumsi, terutama bagi penderita penyakit liver. Beberapa herbal justru dapat bersifat toksik bagi hati atau berinteraksi dengan obat-obatan medis yang sedang dikonsumsi.

Oleh karena itu, setiap pengobatan, termasuk penggunaan herbal, sebaiknya selalu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter. Dokter dapat memberikan panduan yang tepat mengenai keamanan dan efektivitas ramuan herbal berdasarkan kondisi spesifik pasien dan jenis penyakit liver yang diderita. Pengawasan medis profesional sangat penting untuk memastikan bahwa pengobatan yang dijalani tidak menimbulkan efek samping yang merugikan atau memperparah kondisi penyakit.

Dengan adanya penjelasan dari ahli, diharapkan masyarakat dapat membedakan antara mitos dan fakta terkait penanganan penyakit liver. Pendekatan medis yang tepat dan berbasis bukti ilmiah, serta konsultasi rutin dengan dokter, merupakan kunci utama dalam mengelola penyakit liver secara efektif dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Peran media dalam menyebarkan informasi kesehatan yang akurat menjadi sangat vital untuk edukasi publik yang lebih luas.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All