Pemerintah Kota Bekasi menghadapi tantangan ganda dalam mewujudkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Di satu sisi, inisiatif strategis ini mendapat dukungan dari masyarakat, namun di sisi lain, ancaman longsor dari timbunan sampah menjadi kerikil tajam yang menghambat kemajuan proyek senilai Rp 1,4 triliun tersebut.
Proyek PLTSa Bantar Gebang, yang digagas untuk mengolah sampah menjadi energi listrik, kini terhambat oleh kondisi geografis dan stabilitas lahan di TPA. Timbunan sampah yang menggunung menimbulkan risiko longsor yang serius, memerlukan solusi teknis yang kompleks dan mahal sebelum pembangunan PLTSa dapat dilanjutkan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Yayan Yuliana, mengakui bahwa tantangan utama terletak pada penanganan timbunan sampah yang sudah ada. “Memang ada tantangan di Bantar Gebang, terutama untuk membangun PLTSa itu. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, terutama soal stabilitas lahan,” ujar Yayan.
Yayan menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya mencari solusi terbaik untuk mengatasi masalah ini. Salah satu opsi yang tengah dikaji adalah melakukan perapihan dan pemadatan timbunan sampah sebelum pembangunan PLTSa dimulai. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan risiko longsor dan memastikan keamanan operasional pembangkit listrik di masa depan.
Di sisi lain, dukungan masyarakat terhadap pembangunan PLTSa Bantar Gebang menjadi modal penting bagi pemerintah daerah. Inisiatif ini diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan sampah yang menumpuk, tetapi juga menghasilkan energi bersih yang dapat memenuhi kebutuhan listrik kota. Pembangunan PLTSa ini merupakan bagian dari komitmen Bekasi untuk beralih ke energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Proyek PLTSa Bantar Gebang sendiri merupakan hasil kerja sama antara Pemerintah Kota Bekasi dan PT Godang Tua Jaya. Nilai investasi untuk proyek ini diperkirakan mencapai Rp 1,4 triliun, yang diharapkan dapat mengolah ribuan ton sampah setiap harinya menjadi energi listrik yang bermanfaat. Keberhasilan pembangunan PLTSa ini akan menjadi tonggak penting dalam pengelolaan sampah perkotaan di Indonesia, sekaligus menjadi solusi energi alternatif yang berkelanjutan.
