Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran yang diduga terkait Iran untuk malam kedelapan berturut-turut. Tindakan ini merupakan respons langsung atas serangan drone di sebuah pangkalan AS di Yordania yang menewaskan tiga tentara Amerika dan melukai puluhan lainnya. Sementara itu, Iran mengklaim telah menembakkan drone ke arah militer AS di Kuwait sebagai bagian dari eskalasi ketegangan yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.
Serangan yang menargetkan tiga tentara Amerika Serikat di Yordania pada Minggu (28/1/2024) waktu setempat, memicu reaksi keras dari Washington. Presiden AS Joe Biden menegaskan bahwa AS akan meminta pertanggungjawaban atas serangan tersebut. Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih, John Kirby, menyatakan pada Selasa (30/1/2024) bahwa AS akan merespons dan “memilih waktu, tempat, dan cara kami merespons.” Pernyataan ini mengindikasikan kelanjutan dari operasi militer AS yang telah berlangsung sejak Jumat (2/2/2024).
Militer AS mengonfirmasi telah menargetkan lebih dari 100 lokasi di Suriah dan Irak yang diyakini terkait dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dan milisi yang didukung Iran. Serangan ini bertujuan untuk melemahkan kemampuan kelompok-kelompok tersebut dalam melancarkan serangan di masa depan. “Tujuan kami adalah untuk merusak, menurunkan, dan mengakhiri kemampuan IRGC dan milisi yang didukung Iran untuk melakukan serangan-serangan ini,” ujar Kirby dalam sebuah pengarahan.
Di sisi lain, Iran melalui media pemerintah mengumumkan bahwa mereka telah menembakkan drone ke arah pangkalan militer AS di Kuwait. Langkah ini dilaporkan sebagai balasan atas serangan AS di Suriah dan Irak. Namun, klaim ini belum diverifikasi secara independen oleh pihak AS atau pihak ketiga lainnya. Pernyataan Iran ini menambah kompleksitas situasi dan menggarisbawahi sifat saling serang yang sedang terjadi antara kedua negara, yang berpotensi semakin mengobarkan konflik regional.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah meningkat tajam sejak dimulainya perang antara Israel dan Hamas di Gaza pada Oktober 2023. Kelompok-kelompok milisi yang didukung Iran di seluruh wilayah, termasuk Hizbullah di Lebanon, kelompok Houthi di Yaman, dan milisi di Irak serta Suriah, telah melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran AS dan sekutunya. Serangan di Yordania ini menjadi titik balik yang paling mematikan bagi pasukan AS di Timur Tengah sejak dimulainya eskalasi konflik tersebut.
