Monday, 10 August 2026
BREAKING
BERITA

Pertumbuhan Industri Pengolahan Indonesia: Mitos Deindustrialisasi Terbantahkan?

Oleh Emanuel August 10, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Indonesia tengah menghadapi narasi deindustrialisasi, namun data terbaru justru menunjukkan geliat positif pada sektor industri pengolahan. Sektor vital ini mencatat pertumbuhan yang patut diperhitungkan, membantah kekhawatiran akan penurunan tajam.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada 21 Mei 2024, Indeks Produksi Industri Pengolahan (IPIP) pada kuartal I 2024 mengalami peningkatan sebesar 4,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year). Angka ini menjadi penanda optimisme di tengah berbagai tantangan ekonomi global.

Pertumbuhan ini didorong oleh kinerja positif beberapa subsektor. Salah satu yang paling menonjol adalah industri makanan dan minuman, yang tumbuh sebesar 7,42 persen. Sektor ini menjadi tulang punggung pertumbuhan industri pengolahan, mencerminkan permintaan domestik yang kuat serta potensi ekspor yang terus dijaga.

Tidak hanya itu, industri alat angkutan juga menunjukkan performa apik dengan peningkatan 4,99 persen. Sektor ini, yang mencakup otomotif dan komponennya, menunjukkan adanya geliat aktivitas yang positif. Diikuti oleh industri barang modal yang tumbuh 4,98 persen, menunjukkan adanya investasi dan perluasan kapasitas produksi.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, saat konferensi pers di Jakarta pada Selasa (21/5/2024) menegaskan, “Pertumbuhan IPIP pada kuartal I 2024 sebesar 4,04% (y-on-y) ini merupakan sinyal positif dan menjadi bantalan bagi perekonomian Indonesia.” Ia menambahkan bahwa angka ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan yang tercatat sebesar 5,11 persen pada periode yang sama.

Lebih lanjut, jika dilihat berdasarkan besaran (year-on-year), industri pengolahan non-migas pada kuartal I 2024 tumbuh sebesar 4,15 persen. Angka ini menunjukkan bahwa kontribusi sektor industri di luar minyak dan gas masih menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi.

Meskipun demikian, Amalia juga mengingatkan adanya beberapa subsektor yang mengalami kontraksi. Industri pakaian jadi, misalnya, mengalami penurunan sebesar 1,62 persen. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga sedikit tertekan dengan pertumbuhan negatif 0,44 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa tantangan masih ada dan perlu diatasi secara strategis.

Namun demikian, secara keseluruhan, data ini memberikan gambaran yang lebih bernuansa mengenai kondisi industri pengolahan Indonesia. Alih-alih mengalami deindustrialisasi, sektor ini justru menunjukkan ketahanan dan kemampuan untuk bertumbuh, terutama dalam menghadapi gejolak ekonomi global.

Bagikan: Facebook X WhatsApp