Iran tengah berduka. Negara itu menggelar prosesi pemakaman besar-besaran bagi mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Upacara duka nasional ini berlangsung pada Minggu, 5 Juli 2026. Suasana haru menyelimuti Mosalla Agung Imam Khomeini di Teheran.
Prosesi tersebut dihadiri oleh tiga putra mendiang Khamenei. Mereka adalah Mostafa, Meysam, dan Masoud Khamenei. Kehadiran mereka terekam televisi pemerintah Iran. Mereka terlihat memanjatkan doa di samping peti jenazah ayah mereka.
Namun, satu sosok penting justru tak terlihat. Mojtaba Khamenei, yang digadang-gadang akan menggantikan ayahnya sebagai pemimpin tertinggi Iran, absen dari acara duka ini. Ketidakhadiran Mojtaba menjadi sorotan utama.
Hingga kini, belum ada penampakan publik terbaru dari Mojtaba. Ia juga belum terlihat dalam foto-foto resmi upacara pemakaman. Hal ini memicu berbagai spekulasi di kalangan publik.
Sejumlah sumber yang dekat dengan lingkaran dalam pemerintahan Iran memberikan sedikit gambaran. Mereka menyebut Mojtaba mengalami luka serius. Luka tersebut didapat saat serangan udara yang menewaskan ayahnya dan beberapa anggota keluarga pada Februari 2026.
Menurut sumber tersebut, Mojtaba mengalami cedera berat pada bagian wajah. Kakinya juga dikabarkan mengalami cedera, bisa satu atau keduanya. Informasi ini belum dikonfirmasi secara resmi.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian turut hadir memimpin doa. Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf juga tampak mendampingi. Sementara itu, Masoud Khamenei terlihat beberapa kali menangis. Ia menyeka air matanya menggunakan keffiyeh. Syal itu merupakan simbol perjuangan revolusioner Iran. Ia juga menunjukkan solidaritas terhadap Palestina.
Rangkaian prosesi pemakaman masih akan berlanjut. Pada Senin, 6 Juli 2026, akan ada upacara besar di pusat Teheran. Keesokan harinya, Selasa, 7 Juli 2026, jenazah Ayatollah Ali Khamenei akan dibawa ke kota suci Qom. Di sana, akan digelar prosesi penghormatan terakhir.
Perang yang berlangsung sekitar empat bulan telah merenggut lebih dari 3.000 nyawa. Korban termasuk pejabat senior, politisi, dan komandan militer Iran. Konflik ini juga menghancurkan berbagai fasilitas militer dan infrastruktur strategis. Kerugian diperkirakan mencapai miliaran dolar.
Pemerintah Iran mengklaim telah memberikan tekanan signifikan. Tekanan ini ditujukan kepada Amerika Serikat dan sekutunya. Iran dikabarkan mampu melancarkan serangan ke pangkalan militer AS di Timur Tengah. Mereka juga memperketat kontrol di Selat Hormuz. Hal ini sempat memicu kenaikan harga energi global.











