JAKARTA – Perkembangan pesat ekonomi digital Indonesia ternyata belum sepenuhnya menerjemahkan lonjakan penggunaan internet menjadi aktivitas produktif. Sebagian besar masyarakat masih menikmati manfaatnya sebagai konsumen, bukan sebagai produsen atau sumber penghasilan.
Peneliti NEXT Indonesia Center, Rezky Reza Pratama, menyoroti fenomena ini. Ia menilai pertumbuhan ekonomi digital nasional yang telah menyentuh angka sekitar USD100 miliar, didominasi oleh konsumen.
"Manfaat ekonomi digital masih lebih banyak dinikmati sebagai sarana konsumsi," ujar Reza dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (5/7/2026).
Ia menambahkan, keberhasilan ekonomi digital tidak cukup diukur dari nilai transaksi yang besar. Lebih penting lagi adalah seberapa banyak masyarakat yang mampu menghasilkan pendapatan.
"Ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari besarnya transaksi," tegasnya.
Riset yang dilakukan NEXT Indonesia Center bertajuk "Perilaku Digital Kelas Menengah" mengungkap temuan ini. Riset tersebut menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025.
Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan pembeli barang dan jasa daring. Pada 2019, jumlah pembeli daring baru mencapai 14,9 juta orang.
Angka ini melonjak drastis menjadi 54 juta orang pada 2025. Kenaikannya mencapai sekitar 39,1 juta orang dalam enam tahun terakhir.
Ini menandakan minat masyarakat untuk berbelanja daring terus meningkat. Namun, sisi produktifnya belum tergarap optimal.
Padahal, pertumbuhan ekonomi digital Indonesia patut diapresiasi. Peningkatan pengguna internet terus terjadi. Transaksi e-commerce pun semakin ramai.
Reza menekankan pentingnya menggeser paradigma. Ekonomi digital seharusnya juga menjadi motor penggerak bisnis digital.
Bukan hanya sekadar platform untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Namun, juga sebagai sarana berinovasi dan menciptakan lapangan kerja baru.
"Tetapi juga dari berapa banyak masyarakat yang mampu memperoleh penghasilan melalui platform digital," imbuh Reza.
Hal ini menjadi tantangan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan. Bagaimana caranya mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi konsumen pasif.
Namun, juga menjadi pelaku aktif dalam ekosistem ekonomi digital. Dengan begitu, manfaat ekonomi digital bisa dirasakan secara lebih merata.
Menciptakan ekosistem yang seimbang antara konsumsi dan produksi. Agar ekonomi digital benar-benar memberikan kontribusi signifikan.
Baik bagi perekonomian nasional maupun kesejahteraan masyarakat secara luas. Perlu ada program yang lebih fokus pada pemberdayaan pelaku usaha digital.











