Mengapa Pertamax Masih Bertahan di Rp16.250? Pakar Ungkap Strategi ‘Price Smoothing’

Rini Widiyarti

JAKARTA – Meskipun harga minyak dunia dilaporkan mengalami pelemahan, keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax di angka Rp16.250 per liter pada Juli lalu ternyata memiliki dasar kebijakan yang matang. Para pakar menilai langkah ini merupakan bagian dari strategi "price smoothing" atau penghalusan harga yang diterapkan oleh PT Pertamina (Persero).

Sebelumnya, pada pengumuman harga BBM nonsubsidi di bulan yang sama, beberapa jenis BBM lain memang mengalami penurunan. Namun, Pertamax dengan Research Octane Number (RON) 92 tetap stagnan pada level harga tersebut.

Ekonom dari Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menjelaskan bahwa berdasarkan model perhitungan yang dikembangkannya, mempertahankan harga Pertamax sudah dapat diprediksi. Ia merinci, ketika harga Pertamax sempat dinaikkan menjadi Rp16.250 per liter pada Juni lalu, angka tersebut sebenarnya masih di bawah harga yang seharusnya jika mengikuti formula penetapan harga.

"Saat itu, harga produk BBM dunia sedang sangat tinggi. Pertamina terpaksa menyerap kerugian," ungkap Yayan. Oleh karena itu, ketika harga minyak dunia mulai turun, margin kerugian tersebut dipulihkan dengan cara menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya.

Yayan menegaskan bahwa harga BBM nonsubsidi tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga minyak mentah dunia semata. Model penetapan harga, yang mengacu pada formula pemerintah dan juga mempertimbangkan perilaku Pertamina sebagai penentu harga, memproyeksikan Pertamax akan tetap dipertahankan.

Lebih lanjut, Yayan memaparkan proyeksi untuk harga di bulan Agustus. Meskipun formula dasar mengarah pada kisaran Rp13.700 per liter, pendekatan "price smoothing" memprediksi harga Pertamax akan berada di sekitar Rp16.000 per liter. Angka ini dinilai tidak akan jauh berbeda dengan harga yang berlaku saat ini.

Keputusan untuk tidak serta-merta menurunkan harga Pertamax ini menunjukkan adanya kalkulasi cermat dari pemerintah dan Pertamina. Strategi ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga dalam jangka menengah, sekaligus memulihkan kondisi finansial perusahaan yang sebelumnya sempat tertekan akibat tingginya harga minyak dunia. Pertamina sebagai operator utama dituntut untuk menyeimbangkan antara harga pasar global dengan kemampuan daya beli masyarakat serta menjaga keberlanjutan operasionalnya.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All