Portugal, negara yang identik dengan gairah sepak bola, pernah dipimpin oleh seorang diktator yang justru membenci olahraga terpopuler itu. António de Salazar, yang berkuasa dari 1932 hingga 1974, memandang sepak bola sebagai olahraga tak berdisiplin dan kacau. Pilihan pribadinya adalah senam.
Kecintaan rakyat Portugal pada sepak bola tak terbantahkan. Sejak era legendaris Eusébio yang membawa timnas menempati peringkat ketiga Piala Dunia 1966, hingga generasi emas seperti Luís Figo, Rui Costa, Deco, Ricardo Carvalho, dan tentu saja Cristiano Ronaldo, sepak bola telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa. Ronaldo sendiri memegang rekor penampilan dan gol terbanyak bagi Seleção das Quinas, memimpin mereka meraih Euro 2016 dan UEFA Nations League 2019.
Namun, di balik euforia sepak bola, Portugal pernah berada di bawah cengkeraman rezim otoriter Salazar. Sang diktator, seorang akademisi yang dikenal teliti dan berpantang, memiliki pandangan unik tentang olahraga. Ia justru lebih menyukai senam.
Meskipun tak menyukai sepak bola secara pribadi, Salazar tak ragu memanfaatkannya untuk propaganda politik. Ia membangun Stadion Nasional di dekat Lisbon pada 1944. Stadion megah ini menjadi saksi bisu acara-acara massal yang diselenggarakan rezim, seperti acara pemuda terorganisir dan final Piala Portugal.
Klub-klub besar seperti Sporting CP dan Benfica pun tak luput dari label "Klub Rezim" karena basis massa dan kesuksesan internasional mereka. Kondisi ini menimbulkan rasa muak di kalangan mahasiswa, pemuda, dan para pemain sepak bola yang merasakan dampak kepemimpinan Salazar yang berkuasa selama empat dekade.
Titik balik datang pada 25 April 1974. Sebuah kudeta tak berdarah yang dipimpin oleh Movimento das Forças Armadas (MFA) atau Gerakan Angkatan Bersenjata, berhasil menggulingkan rezim otoriter tersebut. Peristiwa bersejarah ini dikenal sebagai Revolusi Anyelir.
Nama revolusi ini terinspirasi dari aksi Celeste Caeiro, seorang pekerja restoran yang membagikan bunga anyelir kepada para tentara. Aksi simbolis ini disambut gembira oleh warga yang kemudian turut serta, menancapkan bunga anyelir di moncong senapan dan seragam tentara.
Sejak momen bersejarah itu, Portugal mengalami perubahan besar. Rakyat dan pemerintahannya bertransformasi. Sepak bola pun tak lagi menjadi alat kepentingan rezim, melainkan kembali menjadi olahraga yang dinikmati dan dicintai rakyatnya tanpa tendensi politik.











