Teheran – Kehadiran perwakilan Arab Saudi dalam upacara penghormatan dan pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (4/7) memunculkan sorotan. Wakil Menteri Luar Negeri Saudi, Walid Al Khuraiji, tampak memberikan penghormatan terakhir di hadapan peti jenazah Khamenei di Masjid Grand Mosalla, Teheran.
Momen tersebut semakin menarik perhatian saat seorang qari melantunkan Surat Ali Imran ayat 13. Ayat Al-Qur’an ini mengisahkan tentang Perang Badar, sebuah pertempuran bersejarah di zaman Nabi Muhammad SAW pada abad ke-7 Masehi. Makna umum ayat tersebut sering diinterpretasikan sebagai gambaran perjuangan umat Islam melawan kaum kafir, serta penegasan bahwa Allah memberikan kemenangan kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
Pembacaan ayat Al-Qur’an memang menjadi bagian dari rangkaian upacara penghormatan jenazah Khamenei. Namun, pemilihan Surat Ali Imran ayat 13 oleh qari saat perwakilan Saudi memberikan penghormatan memicu reaksi beragam di media sosial. Banyak warganet menilai pemilihan ayat tersebut seolah ingin memposisikan Iran sebagai pihak yang didukung Tuhan, sementara pihak lawan dianggap berada dalam kubu yang berlawanan.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana simbolisme keagamaan dapat digunakan dalam konteks politik internasional, bahkan dalam momen duka sekalipun. Berbagai negara memang mengirimkan perwakilan mereka untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah Khamenei dimakamkan di Mashhad pada 9 Juli.
Pemerintah Indonesia, misalnya, menugaskan Duta Besar RI untuk Iran dan Turkmenistan, Rolliansyah Soemirat, untuk hadir. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, menyatakan penghargaan atas undangan Pemerintah Iran.
Sementara itu, Malaysia mengutus Menteri Pertanian dan Ketahanan Pangan, Datuk Seri Mohamad Sabu, untuk memberikan penghormatan terakhir. Akun X, @IraninIndonesia, mengabarkan pengiriman utusan khusus Malaysia beserta delegasi untuk menyampaikan belasungkawa.
Kehadiran perwakilan Saudi dan pembacaan ayat Al-Qur’an yang spesifik ini menjadi catatan penting dalam dinamika hubungan regional, di mana simbolisme dan interpretasi keagamaan kerapkali memiliki bobot politik yang signifikan. Peristiwa ini juga menggarisbawahi kompleksitas geopolitik di Timur Tengah, di mana Iran dan Arab Saudi memiliki hubungan yang penuh tantangan.











