Netflix kembali menghadapi gelombang kritik pedas dari para penggemar setia Avatar: The Last Airbender. Musim kedua serial adaptasi live-action yang tayang pada 25 Juni lalu ini menuai beragam reaksi negatif di media sosial. Fokus utama kekecewaan penonton tertuju pada perubahan drastis alur cerita dan kualitas dialog yang dinilai menurun.
Bukan hanya itu, pemilihan aktor untuk memerankan karakter-karakter ikonik juga menjadi sorotan tajam. Banyak penggemar merasa tim casting gagal menangkap esensi visual karakter dari versi animasi yang sangat dicintai. Keluhan ini seolah mengulang kritik serupa yang sudah dilayangkan sejak musim pertama dirilis pada 22 Februari 2024.
Salah satu komentar pedas yang beredar di media sosial menyatakan, "Netflix… kalian menghancurkan permata berharga kami. Avatar adalah salah satu kartun yang paling dicintai, dan kalian merusaknya." Pertanyaan mengenai keseriusan tim casting dalam mempelajari materi sumbernya pun ramai dilontarkan. "Bagian casting nonton kartunnya enggak sih," tulis seorang pengguna.
Adaptasi yang dianggap menyimpang dari materi asli semakin memperparah kekecewaan. "Castingnya ngaco, ceritanya diubah-ubah, malah feel cerita enggak dapat," keluh penonton lain. Kesenjangan waktu produksi yang cukup lama, dua tahun sejak musim pertama, semakin membuat penggemar bertanya-tanya mengapa kesalahan yang sama terulang.
Detail spesifik mengenai ketidaksesuaian pun diangkat. Contohnya, perubahan arena pertarungan Toph yang awalnya tidak bisa melihat di pasir, kini justru ditempatkan di lingkungan berpasir. Kostum Toph pun dinilai tidak sesuai dan tidak cocok. "Karakter yg lain juga punya masalah yg sama lagi," tambah penggemar.
Beberapa penonton mengaku kesulitan mengikuti alur cerita yang terasa membingungkan akibat perubahan besar. "Banyak banget adegan penting yang ada di kartun enggak dimasukkan ke live action-nya. Sayang banget padahal CGI-nya cukup bagus," ujar seorang penonton, meski tetap menanti musim ketiga. Namun, penampilan Toph secara khusus mendapat apresiasi.
Kegagalan tim casting dalam menghadirkan karakter yang sesuai ekspektasi penggemar terasa sangat nyata. Penampilan Thalia Ran sebagai Mai juga mendapat sorotan. Aktingnya, terutama dalam adegan pertarungan, dinilai kurang meyakinkan dan mengecewakan. "Sepertinya para sutradara casting itu ingin agar dia di-bully di internet," tulis seorang pengguna, menyiratkan kekecewaan yang mendalam.
Selain itu, ketidakselarasan visual karakter dengan perkembangan cerita juga mengusik. Gordon Cormier sebagai Avatar Aang dikritik karena perubahan fisiknya yang drastis antara musim pertama dan kedua. Padahal, secara alur cerita, jeda waktu antara kedua musim tersebut hanya beberapa minggu.
"Netflix butuh waktu lama sekali sampai-sampai Gordon Cormier (Aang) berubah dari anak berusia 12 tahun menjadi remaja 15 tahun dengan suara yang lebih berat dan tubuh yang mengalami lonjakan pertumbuhan," ungkap seorang penonton. Perbedaan visual yang mencolok ini dianggap merusak imersi penonton, seolah Aang mengalami pubertas instan dalam semalam.
Musim kedua Avatar: The Last Airbender sendiri menceritakan kelanjutan misi Avatar Aang bersama Katara dan Sokka. Mereka berusaha meyakinkan Raja Bumi untuk bergabung dalam pertempuran melawan Negara Api. Misi ini dilakukan setelah kemenangan pahit dalam menyelamatkan Suku Air Utara dari invasi. Serial ini tayang perdana di Netflix pada 25 Juni 2026.











