Jakarta – Perkumpulan kardiologi dunia meluncurkan definisi universal baru untuk gagal jantung. Perubahan ini menitikberatkan pada pencegahan dini penyakit jantung koroner. Klasifikasi gagal jantung pun kini tidak lagi terpatok kaku pada ambang batas fraksi ejeksi ventrikel kiri (LVEF).
Dokumen "Second Universal Definition of Heart Failure" ini merupakan hasil kolaborasi berbagai organisasi. American Heart Association, American College of Cardiology, European Society of Cardiology, dan World Heart Federation terlibat. Heart Failure Society of America, Heart Failure Association of the European Society of Cardiology, serta Japanese Heart Failure Society juga berpartisipasi.
Dr. Mary Norine Walsh, selaku direktur medis program gagal jantung di Ascension St. Vincent Heart Center, menekankan pergeseran paradigma. "Kerangka kerja baru mengakui gagal jantung bukan kondisi statis," ujarnya dalam siaran pers. "Dengan fokus pada tahap penyakit, penyebab, dan lintasan penyakit, termasuk perbaikan, remisi, dan pemulihan, kita dapat menyesuaikan perawatan dengan lebih baik." Upaya pencegahan juga diharapkan semakin maju.
Sebelumnya, pada tahun 2021, definisi universal dan klasifikasi gagal jantung telah diterbitkan. Tujuannya adalah standardisasi bahasa dan praktik medis. Pembaruan definisi kedua ini membawa sejumlah perubahan penting. Salah satunya adalah perubahan tahapan perkembangan gagal jantung.
Kini, empat tahap perkembangan gagal jantung didefinisikan secara baru. Perubahan ini memberikan pemahaman lebih mendalam tentang progresivitas penyakit. Selain itu, komite penulis memutuskan untuk beralih dari ambang batas LVEF yang spesifik.
Para penulis menyatakan, "Ambang batas LVEF yang digunakan dalam Definisi Universal Gagal Jantung pertama bersifat arbitrer." Variabilitas pengukuran ekokardiografi menjadi salah satu pertimbangan. Kesulitan interpretasi LVEF dari modalitas pencitraan berbeda juga diakui. Perdebatan mengenai apakah ambang batas LVEF harus memperhitungkan perbedaan jenis kelamin, usia, dan etnis masih berlangsung.
Ada bukti yang berkembang bahwa individu dengan LVEF sedikit menurun dapat memperoleh manfaat dari terapi standar untuk gagal jantung dengan LVEF yang berkurang. Hal ini memicu pertimbangan untuk mengelompokkan gagal jantung dengan LVEF lebih rendah di bawah kategori gagal jantung dengan LVEF yang berkurang.
Komite penulis secara spesifik menyebutkan batas bawah normal LVEF. Angka ini sekitar 53% untuk wanita dan 52% untuk pria. Angka ini sedikit lebih tinggi pada individu Asia. Klasifikasi LVEF yang baru pun dijelaskan secara terperinci.
Dokumen ini juga menyajikan wawasan baru mengenai klasifikasi gagal jantung berdasarkan penyebab. Variasi geografis dalam prevalensi gagal jantung turut dibahas. Lintasan penyakit, cara presentasi, dan aspek lainnya juga diperinci.
"Gagal jantung tetap menjadi tantangan besar yang terus berkembang secara global," ujar Walsh. Ketidaksesuaian definisi telah membatasi kemajuan penelitian dan pengobatan. Definisi yang diperbarui ini menyediakan kerangka kerja yang lebih jelas dan konsisten. Tujuannya adalah membantu klinisi mengidentifikasi risiko lebih awal. Pendekatan pengobatan yang lebih personal diharapkan dapat meningkatkan hasil pasien di seluruh dunia.
Dokumen ini diterbitkan di jurnal ternama seperti Circulation, Journal of the American College of Cardiology, European Heart Journal, dan Global Heart. Ini menjadi dasar bagi panduan baru American Heart Association/ACC mengenai gagal jantung. Panduan tersebut dijadwalkan terbit pada akhir tahun 2027.











