Cuti Ayah Terbukti Ampuh Tekan Depresi dan Kecemasan Pasca Kelahiran Anak

Rini Widiyarti

Dua penelitian terbaru yang diterbitkan dalam American Journal of Public Health mengungkapkan bahwa kebijakan cuti ayah atau paternal leave memiliki korelasi kuat dengan peningkatan kesehatan mental bagi para pria yang baru memiliki anak. Pemberian cuti berbayar terbukti signifikan mengurangi risiko depresi dan kecemasan, sementara durasi cuti yang lebih panjang mampu menekan angka depresi secara lebih efektif.

Craig F. Garfield, profesor pediatri dan ilmu sosial medis di Northwestern University Feinberg School of Medicine, menyatakan bahwa pihaknya telah mengamati kebutuhan pria dalam transisi menjadi seorang ayah. Melalui inisiatif PRAMS for Dad, Garfield dan timnya menganalisis data dari 4.290 ayah di Ohio sepanjang tahun 2022 hingga 2023.

Hasil studi menunjukkan bahwa sebanyak 6,6 persen ayah mengalami depresi tingkat sedang hingga tinggi, sementara 11 persen lainnya mengalami kecemasan. Pria yang mengambil cuti tanpa dibayar justru menunjukkan tingkat kecemasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang mendapatkan cuti berbayar. Beban finansial menjadi pemicu utama stres yang mengganggu kesejahteraan psikologis para ayah baru tersebut.

Di sisi lain, penelitian dari Karolinska Institutet di Swedia memperkuat temuan ini dengan mengamati 746 ayah. Michael B. Wells dan Jingyi Wang menemukan bahwa manfaat kesehatan mental paling optimal muncul ketika ayah mengambil cuti di luar kuota dasar yang diwajibkan, yakni berkisar antara 14 hingga 40 minggu.

Wells menjelaskan bahwa cuti yang terlalu singkat, seperti hanya beberapa minggu saja, tidak memberikan dampak protektif yang cukup bagi kesehatan mental ayah. Sebaliknya, pembagian waktu pengasuhan yang lebih adil dan proporsional antara ibu dan ayah menjadi kunci dalam menciptakan iklim keluarga yang lebih sehat serta stabil.

Noah Sakamoto, praktisi kesehatan mental di Sacramento, menilai temuan ini sangat krusial karena memindahkan isu kesehatan mental ayah dari sekadar ruang klinis ke ranah kebijakan publik. Menurutnya, ketika seorang ayah harus memilih antara dukungan finansial keluarga atau ikatan emosional dengan anak, hal itu menciptakan tekanan psikologis yang berat.

Kebijakan cuti berbayar berfungsi sebagai penyangga psikologis bagi para ayah untuk beradaptasi dengan peran barunya tanpa dibayangi rasa cemas akan hilangnya pendapatan. Dengan waktu yang cukup, para pria dapat bertransformasi dari sekadar pembantu menjadi mitra pengasuhan yang setara. Hal ini pada akhirnya mengurangi konflik dalam hubungan dan menurunkan risiko depresi pasca kelahiran.

Para peneliti menyimpulkan bahwa kebijakan cuti ayah tidak boleh dipandang hanya sebagai isu kesetaraan gender atau pasar tenaga kerja semata. Lebih dari itu, kebijakan ini merupakan investasi kesehatan masyarakat yang berdampak luas bagi kesejahteraan anak, ibu, dan stabilitas keluarga secara keseluruhan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All