Kabar baik bagi para penderita eksim atau dermatitis atopik (AD). Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Dermatology mengungkapkan bahwa layanan kesehatan berbasis telemedisin yang terstruktur mampu memberikan hasil klinis yang setara dengan perawatan langsung di klinik atau rumah sakit.
Penelitian ini melibatkan 300 peserta yang menderita eksim. Mereka dibagi ke dalam dua kelompok, yakni 151 orang menerima perawatan langsung dan 149 orang mendapatkan layanan melalui model kesehatan terhubung berbasis tim atau Team-based Connected Health (TCH).
Dalam model TCH, pasien mengirimkan data klinis, riwayat kesehatan, hingga foto kondisi kulit mereka melalui platform daring yang aman. Selanjutnya, dokter spesialis kulit akan meninjau informasi tersebut untuk memberikan diagnosis, resep obat, hingga edukasi perawatan dalam waktu tiga hari kerja.
Dr. April W. Armstrong, kepala divisi dermatologi di UCLA Health sekaligus pemimpin penelitian ini, menegaskan bahwa studi tersebut bukan sekadar menguji kemudahan akses. Fokus utamanya adalah membuktikan apakah model daring yang terstruktur bisa mencapai standar kualitas klinis yang sama dengan perawatan konvensional selama satu tahun penuh.
Hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada skor Eczema Area and Severity Index (EASI), Investigator Global Assessment (IGA), dan Patient-Oriented Eczema Measure (POEM) antara kedua kelompok. Angka perubahan rata-rata yang ditemukan berada dalam batas kesetaraan statistik yang ketat.
Dr. Joel M. Gelfand, editor medis senior dermatologi di Healio yang juga terlibat dalam studi ini, menyebut hasil tersebut sebagai bukti ilmiah yang sangat kuat. Menurutnya, pendanaan dari NIH sangat krusial dalam mendukung riset yang membuktikan efektivitas telemedisin bagi kesehatan kulit masyarakat.
Metode ini dinilai sangat membantu bagi pasien yang menghadapi hambatan akses seperti waktu tunggu yang lama, kesulitan transportasi, atau kendala pekerjaan. Meski demikian, model telemedisin ini tetap memiliki batasan. Dr. Armstrong menjelaskan bahwa pendekatan ini tidak disarankan bagi pasien dengan diagnosis yang belum jelas, kondisi yang memburuk dengan cepat, atau mereka yang berisiko tinggi mengalami komplikasi serius.
Pakar dermatologi lainnya, Dr. Rachel Day, menambahkan bahwa model telemedisin sangat ideal untuk menangani kasus eksim tingkat ringan. Dengan mengalihkan kasus-kasus yang lebih sederhana ke platform daring, tenaga medis dapat lebih fokus memberikan perhatian langsung kepada pasien dengan kondisi penyakit yang lebih kompleks dan membutuhkan penanganan mendalam.
Ke depan, tantangan utama yang harus dihadapi adalah aspek operasional dan kebijakan penggantian biaya medis. Jika regulasi dapat menyesuaikan dengan hasil klinis yang terbukti setara, model telemedisin terstruktur ini diyakini akan menjadi solusi masa depan yang berkelanjutan bagi pengelolaan penyakit kronis seperti eksim.











