Sisi Gelap Sepak Bola Mesir: Saat Hossam Hassan Membawa Politik ke Lapangan Hijau

Danu Ilham

Kemenangan tim nasional Mesir 3-1 atas Selandia Baru di ajang Piala Dunia bukan sekadar torehan prestasi di lapangan. Bagi pelatih Hossam Hassan, hasil ini menjadi panggung untuk menunjukkan loyalitas penuh kepada Presiden Mesir, Abdel Fatah al-Sisi.

Usai pertandingan, Hassan secara terbuka menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada sang presiden. Ia menyebut pesan ucapan selamat dari Al-Sisi sebagai medali kehormatan yang ia sematkan di dada.

Hassan bahkan memuji perkembangan olahraga di bawah kepemimpinan Al-Sisi sebagai sesuatu yang ajaib. Pernyataan ini mencerminkan kaburnya batas antara profesionalisme sepak bola dan kepentingan politik di Mesir saat ini.

Sebagai legenda hidup sepak bola Mesir dan pemenang tiga kali Piala Afrika, prestasi Hassan sebagai pelatih memang tak terbantahkan. Ia sukses membawa The Pharaohs lolos ke Piala Dunia dengan catatan impresif 26 poin dari 30 poin maksimal.

Bahkan, ia berhasil memutus dahaga kemenangan Mesir di Piala Dunia yang telah berlangsung selama 92 tahun. Namun, di balik taktiknya, Hassan kerap menggunakan posisinya untuk mendukung kebijakan negara.

Keterikatan ini berakar sejak 2019, ketika Al-Sisi secara terbuka mempertanyakan penggunaan pelatih asing. Ia mendesak agar Mesir lebih percaya pada talenta lokal, sebuah arahan yang kemudian diimplementasikan dengan penunjukan Hassan.

Kini, kritik terhadap timnas pun menjadi isu sensitif. Menteri Olahraga Ashraf Sobhy bahkan pernah mendesak para jurnalis untuk mendukung timnas layaknya mendukung pimpinan militer dan politik negara.

Hassan tampak menjalankan instruksi tersebut dengan serius. Ia bahkan menunjuk pengacara khusus untuk menindak para pengamat atau media yang melontarkan kritik terhadap kepemimpinannya.

Tindakan ini selaras dengan kondisi ekosistem sepak bola Mesir yang kini telah dikuasai entitas terafiliasi militer dan intelijen. Mulai dari sponsor jersey hingga pengelolaan tiket melalui aplikasi Tazkarti, semuanya berada di bawah kendali negara.

Bahkan, hak siar, pengelolaan stadion, hingga zona penggemar Piala Dunia dikelola oleh United Media Services, konglomerat media milik badan intelijen Mesir. Bagi Hassan, perannya bukan sekadar pelatih, melainkan bagian dari misi nasional.

Saat ini, setiap interaksi antara penggemar dan timnas telah tersaring melalui aparat keamanan negara. Situasi ini menunjukkan bagaimana sepak bola di Mesir telah menjadi instrumen yang tidak bisa dipisahkan dari narasi besar kekuasaan pemerintah yang berkuasa sejak 2013.

Hassan sendiri mengaku tidak memandang pekerjaannya sebagai kontrak profesional semata. Ia menganggap posisinya sebagai bentuk pengabdian nasional, sebuah argumen yang semakin memperkuat posisi politiknya dalam olahraga paling populer di Mesir tersebut.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All