Perangkat teknologi yang dapat dikenakan atau wearable devices kini membawa angin segar dalam dunia medis. Sebuah studi percontohan terbaru menunjukkan bahwa perangkat ini mampu mendeteksi sindrom pelepasan sitokin atau cytokine release syndrome (CRS) pada pasien penerima terapi sel CAR-T jauh lebih cepat dibandingkan pemantauan standar di rumah sakit.
Temuan yang diterbitkan dalam jurnal JCI Insight tersebut dianggap sebagai terobosan besar oleh para ahli. CRS merupakan komplikasi sistemik yang berpotensi mengancam jiwa bagi pasien yang menjalani terapi sel T reseptor antigen kimerik atau CAR-T.
Selama ini, pasien penerima terapi CAR-T untuk pengobatan kanker darah seperti multiple myeloma harus menjalani rawat inap selama 10 hingga 14 hari. Hal ini dilakukan agar tenaga medis dapat memantau gejala CRS secara ketat. Namun, prosedur ini memakan biaya sangat besar dan membebani infrastruktur rumah sakit.
Dr. Samir Parekh dari Icahn School of Medicine at Mount Sinai menyatakan bahwa hasil penelitian ini sangat luar biasa. Menurutnya, penggunaan wearable devices dapat mengubah peta penanganan pasien di masa depan.
Dalam studi yang melibatkan 30 pasien multiple myeloma, perangkat tersebut berhasil mendeteksi gejala CRS rata-rata tujuh jam lebih awal dibanding pemantauan konvensional oleh perawat. Model teknologi yang digunakan mampu mengenali 90 persen dari total episode CRS yang terjadi pada subjek penelitian.
Dr. Parekh menambahkan bahwa penemuan ini memberikan peluang bagi pasien untuk tidak perlu lagi dirawat terlalu lama di rumah sakit. Pasien nantinya cukup berada di lokasi yang dekat dengan fasilitas kesehatan, seperti hotel atau apartemen. Jika sensor mendeteksi tanda bahaya, tim medis bisa langsung melakukan intervensi dengan cepat.
Selain memantau tanda vital seperti detak jantung, suhu kulit, dan laju pernapasan, penelitian ini juga mengidentifikasi interferon gamma sebagai biomarker kuat. Peningkatan kadar zat ini terbukti selaras dengan perkembangan gejala CRS pada pasien.
Langkah selanjutnya, tim peneliti berencana memvalidasi temuan ini dalam kelompok pasien yang lebih besar. Mereka juga tengah mengajukan pendanaan untuk menguji efektivitas perangkat wearable pada pasien yang mendapatkan terapi antibodi bispesifik.
Jika terbukti konsisten, strategi ini dinilai sebagai solusi yang sangat efisien secara biaya dan operasional. Penggunaan sistem otomatis berbasis sinyal sensor akan mengurangi ketergantungan pada pemantauan manual yang intensif.
Dengan demikian, akses terhadap terapi CAR-T yang canggih diharapkan dapat menjangkau lebih banyak pasien di berbagai daerah. Inovasi ini menjadi langkah konkret dalam mewujudkan pengobatan kanker yang lebih aman, terjangkau, dan fleksibel bagi para penderita di seluruh dunia.











