Mitos Matahari Pagi Aman bagi Kulit Terbantahkan, Ini Penjelasan Ahli

Rini Widiyarti

Banyak orang meyakini beraktivitas di luar ruangan pada pagi atau sore hari lebih aman bagi kulit. Pandangan ini muncul karena intensitas radiasi matahari dianggap tidak seterik saat siang hari. Namun, sebuah studi terbaru dari Australia mematahkan mitos tersebut.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Photochemistry and Photobiology menegaskan paparan sinar ultraviolet tetap berisiko tinggi. Radiasi UV terbukti mampu memicu kerusakan kulit meskipun intensitas cahayanya terasa rendah.

Para ilmuwan dari QIMR Berghofer Medical Research Institute menemukan fakta krusial terkait paparan ini. Ternyata, tingkat bahaya tidak ditentukan oleh teriknya matahari yang kita rasakan langsung.

Faktor penentu utama adalah total dosis radiasi UV yang terserap oleh jaringan kulit manusia. Profesor Rachel Neale, salah satu peneliti utama, menjelaskan mekanisme akumulasi radiasi tersebut.

Menurut Neale, dosis radiasi yang diterima kulit saat siang terik bisa sama dengan durasi lama di pagi hari. Kuncinya terletak pada akumulasi total paparan UV yang mengenai permukaan kulit sepanjang hari.

Akibat anggapan keliru tersebut, banyak orang abai terhadap perlindungan diri saat beraktivitas pagi. Mereka cenderung tidak menggunakan tabir surya, topi, maupun pakaian pelindung saat matahari terasa lembut.

Padahal, melalui metode biopsi, para ahli menemukan bukti kerusakan DNA dan stres seluler. Temuan ini muncul baik pada paparan singkat intensitas tinggi maupun paparan lama intensitas rendah.

Peneliti bahkan mendeteksi kenaikan protein p53 sebagai penanda biologis kerusakan DNA. Kerusakan sel ini sering kali terjadi sebelum kulit menunjukkan gejala kemerahan atau terbakar matahari.

Profesor David Whiteman menambahkan bahwa paparan berulang dalam kadar rendah memiliki dampak jangka panjang. Kondisi ini dapat memicu mutasi sel yang secara signifikan meningkatkan risiko kanker kulit.

Meski berbahaya, tubuh manusia tetap membutuhkan paparan matahari untuk sintesis vitamin D. Nutrisi ini sangat penting guna menjaga kesehatan tulang dan mengoptimalkan sistem kekebalan tubuh.

Oleh karena itu, masyarakat harus tetap mengedepankan keseimbangan antara kebutuhan vitamin D dan proteksi kulit. Perlindungan konsisten wajib diterapkan baik pada pagi, siang, maupun sore hari.

Langkah pencegahan praktis dapat dilakukan dengan penggunaan tabir surya berspektrum luas. Selain itu, penggunaan topi bertepi lebar dan pakaian tertutup sangat dianjurkan saat beraktivitas di luar.

Membatasi durasi di bawah paparan matahari juga menjadi kunci utama menjaga kesehatan kulit jangka panjang. Mengingat kerusakan bersifat akumulatif, kesadaran proteksi dini menjadi sangat krusial bagi setiap individu.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All