Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memperketat pengawasan terhadap produk makanan siap saji bagi jemaah haji Indonesia. Langkah ini diambil guna menjamin seluruh logistik pangan yang dikirim ke Arab Saudi tetap aman, bergizi, dan layak konsumsi.
Kepala BPOM, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed, Ph.D., menegaskan penerapan Program Manajemen Risiko (PMR) menjadi kunci utama. Sistem kendali mandiri ini memastikan setiap tahapan produksi memenuhi standar ketat keamanan dan gizi.
Program PMR kini diwajibkan bagi industri pangan untuk memastikan standar pengemasan hingga pengolahan terjaga dengan baik. Kebijakan ini merupakan bentuk perlindungan negara terhadap kesehatan jemaah selama menunaikan ibadah di tanah suci.
BPOM telah melakukan seleksi ketat terhadap ribuan industri pangan di Indonesia. Hasilnya, hanya tujuh perusahaan yang dinilai mampu memenuhi seluruh indikator keamanan pangan, termasuk PT Halalan Tayyiban Indonesia (HATI).
Kriteria penilaian meliputi konsistensi penerapan program, kepatuhan terhadap regulasi, hingga progres kemajuan industri. BPOM memastikan setiap perusahaan terpilih melalui evaluasi serta audit berkala yang mendalam.
Direktur Utama PT HATI, Sugiri, menyatakan pihaknya telah mendapatkan pendampingan intensif dari BPOM sejak tahun 2019. Proses ini mencakup pembinaan hingga inspeksi langsung saat proses produksi berlangsung.
Menurut Sugiri, setiap menjelang musim haji, petugas BPOM rutin melakukan kunjungan ke fasilitas produksi. Hal ini dilakukan guna memastikan produk siap saji benar-benar aman sebelum dikirim ke luar negeri.
Penerapan standar ini dinilai meningkatkan kepercayaan publik terhadap produk makanan siap saji bagi jemaah haji. Selain faktor keamanan, kualitas rasa tetap menjadi prioritas utama bagi kepuasan para jemaah.
Owner PT HATI, Puspo Wardoyo, menambahkan perusahaannya telah menyediakan makanan haji selama hampir lima tahun. Ia berupaya mematahkan stigma negatif masyarakat terhadap produk makanan siap saji yang sering dianggap tidak sehat.
Produk Meal Ready to Eat (MRE) mereka diklaim tidak menggunakan bahan pengawet kimia tambahan. Teknologi yang digunakan memungkinkan makanan bertahan lama pada suhu ruang tanpa mengurangi kesegaran cita rasanya.
Tantangan mengubah persepsi konsumen menjadi fokus utama perusahaan dalam mengembangkan produk tersebut. Inovasi ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan gizi jemaah haji dengan standar keamanan yang sangat tinggi.
Upaya kolaboratif antara BPOM dan pelaku usaha ini diharapkan dapat menjamin kelancaran konsumsi jemaah haji tahun ini. Keamanan pangan yang terjamin menjadi fondasi penting bagi kesehatan jemaah dalam menjalankan rangkaian ibadah di Arab Saudi.











