Thursday, 10 September 2026
BREAKING
KESEHATAN

Pelacakan Gerakan Mata Ungkap Kondisi Pasien Cedera Otak Traumatik di Rehabilitasi

Oleh Rini Widiyarti September 10, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Neurology menemukan bahwa sistem pelacakan gerakan mata (eye-tracking) dapat mencerminkan status fungsional pasien yang menjalani rehabilitasi akibat cedera otak traumatik (Traumatic Brain Injury/TBI). Temuan ini menunjukkan bahwa metrik yang diperoleh dari sistem pelacakan mata di samping tempat tidur pasien berkorelasi lebih baik dengan kondisi fungsional dibandingkan dengan tingkat keparahan cedera awal.

Metode tradisional dalam mengevaluasi gerakan mata pasca-cedera neurologis seringkali bersifat kualitatif. Shimrit Shani, seorang mahasiswa PhD dari School of Optometry and Vision Science di Bar-Ilan University, Israel, yang merupakan salah satu penulis studi, menjelaskan bahwa dalam praktik klinis rutin, penilaian smooth pursuit (kemampuan mata mengikuti objek bergerak) sering dilakukan secara subyektif dengan meminta pasien mengikuti target genggam. Metode ini dinilai kurang objektif dan terukur.

Penelitian ini melibatkan data dari 30 pasien yang menjalani rehabilitasi TBI di Sheba Medical Center, Tel Hashomer, Israel. Pasien-pasien ini dievaluasi menggunakan sistem pelacakan mata canggih yang mampu mengukur berbagai aspek gerakan mata secara kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa metrik spesifik dari sistem pelacakan mata, seperti kecepatan, akurasi, dan pola gerakan mata, secara signifikan berkorelasi dengan penilaian fungsional pasien. Sebaliknya, tingkat keparahan cedera otak yang diukur pada awal proses rehabilitasi tidak menunjukkan korelasi yang kuat dengan status fungsional akhir.

“Gerakan mata secara umum diperiksa setelah cedera neurologis, namun dalam praktik klinis rutin, smooth pursuit sering dinilai secara kualitatif dengan meminta pasien mengikuti target genggam,” ujar Shani. Ia menambahkan, “Sistem pelacakan mata kami memungkinkan kami untuk mengukur parameter gerakan mata secara objektif dan kuantitatif, yang ternyata memberikan informasi yang jauh lebih kaya mengenai status fungsional pasien dibandingkan dengan tingkat keparahan cedera awal.”

Temuan ini berpotensi mengubah cara penilaian pasien TBI di masa depan. Dengan menggunakan teknologi pelacakan mata, para klinisi dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan objektif tentang kemampuan fungsional pasien, yang pada gilirannya dapat membantu dalam merancang program rehabilitasi yang lebih personal dan efektif. Studi ini memberikan bukti kuat bahwa pemantauan gerakan mata secara kuantitatif dapat menjadi alat diagnostik dan prognostik yang berharga dalam rehabilitasi TBI.

Bagikan: Facebook X WhatsApp