Indonesia bersiap menyambut panen perdana dari Kawasan Sentra Industri Garam Nasional yang sedang dibangun di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek ambisius ini diproyeksikan akan mulai menghasilkan garam pada November 2026.
Pembangunan kawasan ini merupakan upaya strategis pemerintah untuk meningkatkan produksi garam nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor. Dengan luas area yang signifikan, diharapkan tambak garam raksasa ini dapat memenuhi kebutuhan garam domestik yang terus meningkat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam kunjungannya ke lokasi proyek, menegaskan komitmen pemerintah terhadap pembangunan infrastruktur garam ini. “Kita harapkan ini bisa menjadi sentra produksi garam nasional yang dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, bahkan bisa ekspor,” ujar Airlangga. Ia menambahkan bahwa proyek ini juga akan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar, termasuk penciptaan lapangan kerja.
Proyek Kawasan Sentra Industri Garam Nasional di Rote Ndao ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kuantitas produksi, tetapi juga kualitas garam yang dihasilkan. Terdapat teknologi yang akan diterapkan untuk memastikan garam yang diproduksi memenuhi standar industri, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun industri lainnya.
Target panen perdana pada November 2026 ini merupakan tonggak penting dalam upaya swasembada garam Indonesia. Keberhasilan proyek ini diharapkan dapat menstabilkan harga garam di pasaran dan memperkuat ketahanan pangan nasional di sektor kelautan dan perikanan.
Selain itu, pemerintah juga terus mendorong pengembangan industri hilir garam, seperti produksi garam beryodium dan garam untuk industri makanan dan farmasi. Hal ini sejalan dengan visi untuk menjadikan Indonesia sebagai produsen garam unggulan di tingkat regional maupun internasional.
