Even Realities G2 Smart Glasses menawarkan kemampuan tak terduga bagi para penggunanya. Di balik tampilannya yang sederhana, perangkat ini menyimpan potensi besar yang bisa dieksplorasi lebih jauh melalui platform developer Even Hub. Pengguna kini dapat menerjemahkan, bernavigasi, berinteraksi dengan AI, dan bahkan menciptakan aplikasi kustom untuk berbagai keperluan.
Salah satu inovasi menarik adalah fitur ‘otak kedua’ yang dikembangkan oleh Tejas Sharma, pendiri Constella. Proyek ini memungkinkan AI pada kacamata untuk mengingat informasi penting, seperti pengingat tugas mingguan. Dengan mengintegrasikan Constella, sebuah basis pengetahuan terbuka, pengguna dapat memerintahkan kacamata untuk menyimpan informasi dan kemudian menanyakannya kembali. Sistem ini secara cerdas mencari di basis data memori, menggabungkan informasi dari alat yang terhubung, dan menyajikan jawaban yang terstruktur di lensa. Fitur ini juga dapat digunakan dalam mode rapat untuk mentranskripsi percakapan secara real-time dan menyajikan wawasan yang relevan dari memori pengguna atau web.
Untuk meningkatkan keamanan digital, Even Realities G2 menyediakan dua metode praktis untuk otentikasi dua faktor (2FA). Metode pertama adalah melalui notifikasi SMS langsung di layar kacamata, memungkinkan pengguna membalas kode tanpa perlu membuka ponsel. Alternatifnya, aplikasi 2Factor yang dikembangkan oleh komunitas Even Realities memungkinkan pengguna memindai kode QR 2FA mereka dan menampilkan token OTP yang terus diperbarui langsung dari menu kacamata, menyerupai Google Authenticator yang terintegrasi langsung ke pandangan.
Bagi para pengembang perangkat lunak, kacamata G2 dapat berfungsi sebagai ‘pengawas’ AI coding. Melalui Mode Terminal bawaan, pengguna dapat mencerminkan terminal komputer mereka ke kacamata. Dengan menginstal jembatan CLI Even, pengguna dapat mengawasi agen AI coding seperti Claude Code dari jarak jauh, menyetujui eksekusi perintah melalui perintah suara atau gestur kacamata, sehingga proses pengembangan dapat berjalan lancar tanpa perlu terpaku di depan komputer.
Bagi yang tertarik dengan budaya Jepang, aplikasi Ojigi Coach di Even Hub menawarkan pelatihan mendalam tentang etiket membungkuk tradisional Jepang. Aplikasi ini mengajarkan berbagai jenis bungkukan, sudut yang tepat, durasi, dan situasi yang sesuai, serta menggunakan sensor kacamata untuk memberikan umpan balik atas latihan pengguna.
Fungsi terjemahan pada G2 dapat dioptimalkan untuk membuat subtitle instan pada film atau acara TV berbahasa asing. Dengan mengalihkan sumber mikrofon ke ponsel yang diletakkan dekat speaker, kacamata dapat menangkap audio dengan lebih jernih dan menampilkan terjemahan di layar. Fitur ini juga dapat dimanfaatkan untuk ‘mendengar’ TV di lingkungan yang bising dengan mengatur terjemahan dari ‘Inggris ke Inggris’ dan menempatkan ponsel dekat speaker TV.
Mengendalikan komputer dengan suara kini menjadi kenyataan berkat aplikasi OcuClaw di Even Hub. Dengan menginstal klien OpenClaw pada kacamata dan komputer, pengguna dapat memerintahkan sistem operasi komputer secara langsung, seperti membuka dokumen atau memutar playlist musik, dengan umpan balik status yang ditampilkan di HUD kacamata. Namun, pengguna perlu waspada terhadap risiko keamanan yang terkait dengan program AI agen.
Bagi pecinta alam, aplikasi Birdie memungkinkan identifikasi spesies burung melalui suara. Aplikasi ini menggunakan mikrofon kacamata untuk mendengarkan suara burung dan mencocokkannya dengan database BirdNET, menampilkan informasi spesies dan foto langsung di layar.
Aplikasi What’s Their Face di Even Hub berfungsi sebagai buku kontak digital berbasis pengenalan suara. Pengguna dapat merekam klip suara seseorang dan mengaitkannya dengan nama serta informasi kontak. Saat bertemu kembali dengan orang tersebut, kacamata akan menampilkan cetakan suara yang cocok, membantu pengguna mengingat nama mereka. Proses komputasi dilakukan secara lokal di perangkat, sehingga menjaga privasi pengguna.
Terakhir, pengguna dapat memanfaatkan G2 untuk meningkatkan kecerdasan sosial. Salah satu contohnya adalah kemampuan untuk menjawab pertanyaan trivia secara instan, seperti yang dicontohkan oleh penggunaan kacamata G1 untuk mengidentifikasi film kedua dari karya sutradara FW Murnau.
