Tingginya penggunaan gawai pada anak usia dini menjadi perhatian serius para dokter mata. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu masalah kesehatan mata, terutama rabun jauh atau mata minus, bahkan sebelum anak mencapai usia 8 tahun.
Dr. X, seorang spesialis mata terkemuka, mengungkapkan keprihatinannya mengenai tren ini. Beliau menekankan bahwa kurangnya aktivitas fisik di luar ruangan menjadi salah satu faktor utama.
Paparan sinar matahari alami sangat penting untuk perkembangan mata yang sehat. Cahaya matahari membantu mengatur pertumbuhan bola mata, sehingga mencegahnya memanjang secara berlebihan yang menjadi penyebab mata minus.
“Anak-anak zaman sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan, terpaku pada layar ponsel, tablet, atau televisi,” ujar Dr. X dalam sebuah seminar kesehatan di Jakarta pada Selasa (23/01/2024).
Beliau menambahkan, kebiasaan ini tidak hanya mengurangi kesempatan anak mendapatkan manfaat sinar matahari, tetapi juga memaksa mata mereka untuk terus fokus pada jarak dekat dalam waktu lama.
Intensitas fokus pada layar gawai yang berdekatan dapat membebani otot-otot mata. Hal ini secara perlahan mengubah bentuk bola mata menjadi lebih panjang.
Akibatnya, cahaya yang masuk ke mata tidak lagi jatuh tepat di retina, melainkan di depannya. Kondisi inilah yang menyebabkan penglihatan jarak jauh menjadi kabur, atau yang kita kenal sebagai miopia.
Risiko ini semakin meningkat jika anak sudah terbiasa menggunakan gawai sejak usia sangat muda. Usia di bawah 8 tahun dianggap sebagai periode kritis perkembangan penglihatan anak.
Jika tidak ditangani, mata minus yang muncul di usia dini dapat terus bertambah parah seiring pertumbuhan anak. Hal ini tentu akan berdampak pada kualitas belajar dan aktivitas sehari-hari mereka.
Orang tua dihimbau untuk lebih memperhatikan kebiasaan anak dalam menggunakan gawai. Batasi durasi penggunaan perangkat digital dan dorong anak untuk lebih banyak bermain di luar rumah.
Aktivitas seperti berlari, melompat, atau sekadar bermain di taman dapat memberikan stimulasi visual yang berbeda dan bermanfaat bagi kesehatan mata.
Selain itu, perhatikan juga pencahayaan di rumah saat anak belajar atau membaca. Pastikan ruangan memiliki penerangan yang cukup dan tidak terlalu gelap.
Pemeriksaan mata rutin juga sangat disarankan, terutama bagi anak-anak yang menunjukkan gejala awal kesulitan melihat jarak jauh. Deteksi dini adalah kunci untuk mencegah perburukan kondisi mata minus pada anak.
Dengan langkah pencegahan yang tepat, diharapkan generasi muda Indonesia dapat tumbuh dengan kesehatan mata yang optimal dan terhindar dari masalah penglihatan di usia dini.
