Warna Pink di Bundaran HI: Lebih dari Sekadar Gaya, Simbol Perlawanan Kritis Perempuan

Darus H

Jakarta – Dominasi warna pink atau merah muda menghiasi aksi unjuk rasa Aliansi Perempuan Indonesia (API) yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, pada Kamis, 18 Juni 2026. Bagi para demonstran, pilihan warna ini bukan sekadar identitas visual semata, melainkan sebuah pernyataan kuat yang sarat makna politis, merepresentasikan simbol perlawanan dan kepemimpinan perempuan dalam gerakan sosial.

Afifah, selaku koordinator lapangan aksi, menjelaskan bahwa pemilihan warna pink memiliki akar sejarah yang kuat dalam perjuangan kaum perempuan. Lebih dari itu, warna ini dipilih untuk menegaskan posisi perempuan yang bukan sekadar menjadi pengikut dalam setiap gerakan, baik itu sosial maupun politik. "Pink itu dekat dengan sejarah perlawanan perempuan. Pink itu tanda simbol berani," ujar Afifah kepada awak media di sela-sela aksi yang berlangsung meriah.

Pandangan bahwa perempuan kerap diposisikan sebagai pelengkap atau sekadar pendukung dalam berbagai gerakan politik masih mengakar di masyarakat. Melalui penggunaan warna pink secara mencolok, API berupaya mendobrak stigma tersebut dan menunjukkan bahwa perempuan memiliki kapasitas dan hak yang sama untuk memimpin gerakan perlawanan rakyat. "Dengan pink itu menunjukkan kalau kami gerakan yang bisa juga memimpin politik perlawanan rakyat. Kami bukan pengikut gerakan saja," tegasnya.

Aksi yang digagas API ini secara sengaja menempatkan perempuan sebagai garda terdepan dan wajah utama dari gerakan tersebut. Keputusan ini didasari oleh kesadaran bahwa perempuan adalah kelompok yang paling merasakan dampak negatif dari berbagai persoalan ekonomi yang tengah melanda negeri. Kenaikan harga bahan kebutuhan pokok, kesulitan mencari lapangan pekerjaan, hingga berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak, semuanya berdampak langsung pada kualitas hidup perempuan. "Perempuan jadi kelompok yang sangat dirugikan hari ini oleh negara dengan berbagai krisis yang terjadi," papar Afifah.

Selain identitas visual melalui warna pink, para demonstran juga membawa atribut yang tak kalah simbolis: berbagai peralatan dapur seperti panci dan alat masak lainnya. Benda-benda rumah tangga ini dipilih untuk merefleksikan peran fundamental perempuan dalam menopang kehidupan sehari-hari keluarga. Peralatan dapur menjadi lambang bahwa perempuan adalah pihak yang paling bersentuhan langsung dengan realitas kenaikan harga bahan pokok, karena mereka yang bertanggung jawab mengelola kebutuhan rumah tangga.

"Kami yang paling merasakan harga cabai naik, harga beras naik, semua harga bahan pokok naik," keluh Afifah. Ia menambahkan bahwa alat dapur yang dibawa demonstran bertujuan menyampaikan pesan bahwa persoalan ekonomi bukanlah sekadar angka-angka statistik semata, melainkan menyangkut hajat hidup masyarakat sehari-hari. Terutama bagi perempuan yang menjadi penggerak utama roda perekonomian rumah tangga.

Dalam aksi tersebut, API mengajukan tiga tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah. Pertama, mendesak penurunan harga kebutuhan pokok agar terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kedua, menuntut penciptaan lapangan kerja yang lebih luas dan merata. Ketiga, menyerukan penghentian proyek makan bergizi gratis yang dinilai berpotensi menimbulkan masalah baru.

Afifah juga menekankan bahwa demonstrasi ini merupakan ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk turut serta dalam gerakan yang berjuang mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi. "Tuntutan rakyat itu akan bisa didengar ketika rakyatnya punya basis massa yang besar," ujarnya, menggarisbawahi pentingnya partisipasi kolektif.

Aksi yang diperkirakan diikuti oleh sekitar 300 hingga 400 orang ini bergerak menuju kawasan Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Sempat terjadi beberapa kali pengarahan rute oleh aparat kepolisian yang meminta massa untuk mengubah jalur perjalanan mereka yang semula ditujukan ke Patung Kuda dan Istana Negara.

Peristiwa ini mencerminkan bagaimana simbolisme warna dan objek dapat digunakan sebagai alat komunikasi yang efektif dalam gerakan sosial. Warna pink, yang seringkali diasosiasikan dengan feminitas dan kelembutan, justru diangkat oleh Aliansi Perempuan Indonesia menjadi lambang kekuatan, keberanian, dan kepemimpinan. Sementara itu, peralatan dapur yang lazim ditemukan di setiap rumah tangga, menjadi pengingat nyata akan dampak krisis ekonomi yang dirasakan langsung oleh perempuan dalam ranah domestik.

Gerakan yang dipelopori oleh API ini menjadi bukti nyata bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam dinamika sosial dan politik. Dengan menempatkan diri sebagai subjek aktif dan bukan objek pasif, perempuan menunjukkan kesiapannya untuk tidak hanya menyuarakan aspirasi, tetapi juga memimpin perubahan. Aksi di Bundaran HI ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai isu-isu krusial yang dihadapi perempuan dan mendorong pemerintah untuk segera merespons tuntutan rakyat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All