Operasi militer gabungan yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel disebut gagal mengubah peta kekuatan di Timur Tengah. Langkah agresif tersebut justru memperkuat posisi geopolitik Iran secara signifikan di kawasan.
Analisis tajam ini disampaikan oleh pakar geopolitik sekaligus editor keamanan nasional 19FortyFive, Brandon Weichert. Ia menegaskan kampanye militer intensif Barat tidak memberikan keuntungan strategis yang nyata bagi sekutu.
Weichert menyoroti durasi konflik yang meleset jauh dari proyeksi awal para perencana militer. Perang yang awalnya diprediksi berlangsung 96 jam kini telah memasuki hari ke-120 lebih.
Menurutnya, tindakan militer yang dilakukan Washington terbukti tidak efektif dalam menekan pengaruh Teheran di lapangan. Kondisi ini justru memposisikan Iran menjadi lebih dominan dibandingkan sebelum konflik bersenjata pecah.
Kegagalan capaian militer ini semakin terlihat di tengah sinyal membingungkan terkait negosiasi damai. Washington dan Teheran masih berselisih paham mengenai draf kesepakatan damai sementara yang sempat diusulkan.
Kedua negara masih bertahan dengan ego masing-masing, terutama terkait isu nuklir dan keamanan Selat Hormuz. Otoritas Iran secara tegas menolak permintaan pertemuan bilateral tingkat tinggi dengan pihak Amerika.
Presiden AS Donald Trump menyatakan keinginan agar proses diplomasi tetap terus berjalan. Namun, perundingan teknis kini hanya dilakukan secara terpisah di Doha melalui mediator pemerintah Qatar.
Draf kesepakatan awal sebenarnya mewajibkan Israel menarik pasukan dari wilayah Lebanon selatan secara bertahap. Rencana itu dibarengi dengan langkah perlucutan senjata milisi Hizbullah oleh pemerintah Lebanon.
Implementasi kesepakatan tersebut kini menemui jalan buntu setelah Hizbullah menolak keras aturan tersebut. Penolakan ini segera diikuti oleh aksi saling tembak rudal di perbatasan kedua negara.
Situasi panas ini membuat prospek perdamaian permanen di kawasan tersebut semakin sulit untuk dicapai. Ketegangan yang terus berlanjut justru memperumit upaya diplomatik yang saat ini sedang diupayakan mediator.
Hingga kini, ketidakpastian masih menyelimuti masa depan stabilitas keamanan di Timur Tengah. Aksi saling klaim kekuatan militer terus menjadi bayang-bayang dalam setiap upaya dialog yang dilakukan.











