Jutaan calon dokter muda di India kembali menghadapi ujian National Eligibility cum Entrance Test (Undergraduate) atau NEET-UG dalam pengamanan super ketat. Pengulangan ujian ini dilakukan setelah dugaan kebocoran soal pada pelaksanaan sebelumnya yang memicu kemarahan publik dan mendesak penyelidikan mendalam.
Suasana tegang terasa di ribuan pusat ujian yang tersebar di seluruh India pada Minggu pagi. Para siswa yang gugup diperiksa dengan identifikasi biometrik, detektor logam, patroli bersenjata, dan penggeledahan badan. Langkah-langkah keamanan ekstra ini diambil untuk memastikan integritas ujian tidak lagi terganggu.
Pihak berwenang tidak tinggal diam untuk mencegah insiden serupa. Angkatan Udara India bahkan dikerahkan untuk mengangkut naskah soal ujian yang baru ke beberapa wilayah, sementara personel polisi dan paramiliter disiagakan di 5.440 pusat ujian.
NEET-UG merupakan ujian krusial yang menjadi gerbang bagi para siswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kedokteran di India. Setiap tahun, jutaan siswa mengikuti ujian ini dengan harapan meraih persentase kecil tempat yang tersedia di fakultas kedokteran ternama.
Sekitar 2,28 juta kandidat telah mengikuti ujian pada 3 Mei lalu, setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mempersiapkan diri untuk menghadapi soal yang terkenal sulit. Kabar pembatalan ujian tersebut sontak menjadi pukulan telak bagi banyak siswa. Skandal ini bahkan memicu gelombang protes di berbagai kota dan tuntutan agar Menteri Pendidikan, Dharmendra Pradhan, mundur dari jabatannya.
Namun, sang menteri tetap menjabat dan berupaya menenangkan para siswa sebelum ujian ulang digelar. "Duduklah tanpa rasa takut, tanpa khawatir, dan Anda pasti akan berhasil dengan baik," ujarnya.
Untuk mengantisipasi segala kemungkinan, National Testing Agency (NTA) memastikan setiap ruang ujian, yang jumlahnya mencapai lebih dari 95.000, dilengkapi dengan kamera pengawas. Total lebih dari 1,3 juta kamera terpasang di seluruh lokasi. Selain itu, sebanyak 51.311 alat peredam sinyal (jammer) digunakan untuk memblokir sinyal ponsel dan potensi gangguan elektronik.
Dalam langkah yang cukup kontroversial, aplikasi pesan Telegram diblokir sementara hingga Senin, menyusul kekhawatiran bahwa platform tersebut dapat digunakan untuk praktik kecurangan. Sebanyak 39.000 petugas penggeledahan dikerahkan di seluruh negeri untuk memeriksa barang-barang terlarang. NTA juga menyatakan bahwa setiap pusat ujian akan dijaga oleh 40-50 personel keamanan.
NTA mengimbau para siswa untuk mengabaikan rumor dan pesan palsu mengenai kebocoran soal yang beredar di media sosial, karena hal tersebut bertujuan untuk menyesatkan dan menimbulkan stres.
Laporan dari India Today menyebutkan penggunaan drone dan regu anjing pelacak di sekitar beberapa pusat ujian. Aturan berpakaian yang ketat juga diberlakukan, termasuk larangan mengenakan sepatu tertutup. Beberapa siswi wanita diminta untuk melepaskan pin hidung dan gelang tradisional yang mereka kenakan. Foto-foto dari luar pusat ujian menunjukkan petugas keamanan memeriksa rambut para kandidat dan meminta mereka melepas anting.
Meskipun langkah-langkah keamanan telah ditingkatkan secara drastis, beberapa siswa masih mengungkapkan kekhawatiran mereka. "Ada ketakutan karena soal ujian ini sudah bocor sekali. Ini bukan kejadian satu kali, ini terjadi setiap tahun," ujar seorang siswa bernama Diksha kepada Reuters.
"Kali ini pihak berwenang mengetahuinya dan mengadakan ujian lagi, yang dalam arti tertentu adalah hal yang baik karena siswa yang bekerja keras seharusnya mendapatkan hasil yang adil. Namun, belajar dan mempersiapkan diri lagi dalam satu bulan… untuk tetap konsisten itu sulit," tambahnya.
Ujian NEET-UG sendiri berlangsung selama tiga jam 15 menit, terdiri dari 180 pertanyaan yang mencakup fisika, kimia, dan biologi. Tingginya tingkat persaingan untuk masuk ke perguruan tinggi kedokteran di India, ditambah dengan kesulitan ujian, telah membuka celah bagi jaringan kejahatan terorganisir untuk meraup keuntungan dari kecurangan ujian.
Tuduhan kebocoran soal ini kini telah diserahkan kepada Biro Investigasi Pusat (CBI) India untuk ditindaklanjuti. Skandal ini menambah daftar panjang kasus dugaan kecurangan dan ketidakberesan dalam ujian di India. Sebelumnya, hasil ujian tingkat kelas 12 yang setara dengan A-levels di Inggris juga menuai keluhan dari banyak siswa terkait kesalahan penilaian setelah penerapan sistem penilaian digital yang baru.











