Transplantasi Ginjal Terancam? Studi Ungkap Risiko Memulai Dialisis yang Kurang Optimal

Rini Widiyarti

Penundaan atau cara memulai dialisis yang tidak sesuai standar dapat memperkecil peluang pasien untuk mendapatkan rujukan, evaluasi, hingga masuk daftar tunggu transplantasi ginjal. Temuan ini diungkapkan oleh studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications Medicine.

Menurut pedoman klinis, memulai dialisis yang optimal berarti memanfaatkan arteriovenous fistula atau graft, atau melalui transplantasi ginjal preemptif. Namun, penelitian yang dipimpin oleh Dr. Megan Urbanski dari Emory University School of Medicine ini menyoroti dampak negatif dari proses yang kurang ideal. "Transisi ke gagal ginjal dan permulaan dialisis yang suboptimal telah menjadi kondisi umum selama puluhan tahun," ujar Dr. Urbanski. "Mengingat dampak besar pada kehidupan pasien, sangat penting untuk memperbaiki titik kritis perawatan ini."

Studi ini menganalisis data dari 49.057 pasien dewasa di sembilan pusat transplantasi di Tenggara Amerika Serikat, periode 2015-2019. Data berasal dari U.S. Renal Data System dan Early Steps to Transplant Access Registry. Pasien dikategorikan berdasarkan tingkat optimalisasi permulaan dialisis mereka.

Hasil penelitian menunjukkan korelasi signifikan. Pasien yang memulai dialisis dengan tingkat optimalisasi moderat, minimal, atau bahkan tidak optimal, memiliki kemungkinan lebih rendah untuk dirujuk transplantasi dalam kurun waktu 12 bulan. Angka adjusted subdistribution hazard ratio (aSHR) menunjukkan risiko yang lebih tinggi.

Lebih lanjut, mereka yang memulai dialisis secara kurang optimal juga lebih kecil kemungkinannya untuk menjalani evaluasi transplantasi dalam enam bulan setelah rujukan pertama. Ini menunjukkan adanya hambatan dalam proses lanjutan menuju transplantasi.

Dampak ini juga terlihat pada peluang pasien untuk masuk dalam daftar tunggu transplantasi. Pasien dengan permulaan dialisis moderat, minimal, dan tidak optimal memiliki peluang yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang memulai secara sangat optimal.

Temuan ini mengindikasikan lebih dari separuh pasien dewasa di wilayah Tenggara memulai dialisis tanpa akses vaskular yang memadai atau perawatan nefrologi pra-dialisis. Kondisi ini secara langsung mengurangi peluang mereka untuk mendapatkan penanganan transplantasi.

Dr. Urbanski menekankan pentingnya peningkatan kesadaran. "Akan sangat membantu jika klinik penyakit ginjal kronis luar pasien memiliki akses ke pekerja sosial nefrologi," tuturnya. "Mereka dapat membantu pasien merencanakan transisi ini, mengatasi masalah asuransi, dan kebutuhan kesehatan mental."

Ia menambahkan, penting untuk membingkai dialisis sebagai "jembatan" menuju transplantasi, sementara transplantasi adalah "tujuan akhir." "Saya seorang optimis, dan saya percaya ada banyak kemungkinan untuk meningkatkan transisi ini," tutup Dr. Urbanski.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All