Sunday, 30 August 2026
BREAKING
BERITA

Titik Panas Karhutla Meningkat, KemenLHK Pantau Ribuan Lokasi

Oleh Emanuel August 30, 2026 58 minutes lalu 0 komentar

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KemenLHK) mencatat adanya peningkatan signifikan pada jumlah titik panas atau hotspot yang terdeteksi di berbagai wilayah Indonesia. Data terbaru menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, mengindikasikan potensi peningkatan kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di musim kemarau.

Berdasarkan pantauan sistem deteksi dini, KemenLHK berhasil mengidentifikasi sebanyak 1.703 hotspot di seluruh Indonesia hingga periode 24 Mei 2024. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode sebelumnya, sehingga memerlukan kewaspadaan ekstra dari semua pihak terkait.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KemenLHK, Basar Manullang, mengungkapkan bahwa jumlah hotspot tersebut tersebar di berbagai provinsi. Provinsi Riau menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi hotspot tertinggi, mencapai 578 titik. Menyusul kemudian Sumatera Utara dengan 266 titik, dan Sumatera Selatan dengan 208 titik.

“Kita terus memantau dan melakukan evaluasi terhadap perkembangan hotspot ini. Data ini menjadi dasar kita untuk melakukan langkah-langkah pencegahan dan penindakan,” ujar Basar Manullang dalam keterangan tertulisnya pada Jumat (24/5/2024).

Selain tiga provinsi tersebut, beberapa provinsi lain juga terpantau memiliki jumlah hotspot yang cukup signifikan. Kalimantan Tengah tercatat memiliki 136 titik, sementara Jambi memiliki 113 titik. Kepulauan Riau dan Kalimantan Selatan masing-masing melaporkan 62 dan 58 titik.

Basar Manullang menegaskan bahwa KemenLHK bersama dengan instansi terkait, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Tentara Nasional Indonesia (TNI), terus berupaya keras untuk mengendalikan potensi Karhutla. Upaya mitigasi dan kesiapsiagaan terus ditingkatkan, termasuk patroli rutin di kawasan hutan dan lahan yang rawan terbakar.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena sanksi hukumnya jelas dan dampaknya sangat merusak lingkungan serta mengancam kesehatan,” tambah Basar Manullang, merujuk pada ancaman kabut asap yang seringkali menyertai insiden Karhutla.

Peningkatan jumlah hotspot ini menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat untuk lebih serius dalam mencegah terjadinya Karhutla, terutama menjelang puncak musim kemarau yang diprediksi akan terjadi pada bulan Juli hingga September 2024.

Bagikan: Facebook X WhatsApp