Ribuan warga Kalimantan Barat menggelar salat Istisqa pada Kamis (12/9/2019) di lapangan parkir Masjid Raya Mujahidin, Pontianak. Aksi spiritual ini dilakukan sebagai upaya memohon turunnya hujan di tengah musim kemarau panjang yang melanda provinsi tersebut, sekaligus untuk mengatasi kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kondisi udara yang buruk akibat asap tidak menyurutkan semangat para jemaah. Rata-rata mereka mengenakan masker saat melaksanakan ibadah. Suasana khusyuk menyelimuti lapangan parkir yang dipadati ribuan orang, terdiri dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk anak-anak, ibu-ibu, dan bapak-bapak.
Salat Istisqa merupakan salat sunnah yang dilaksanakan untuk memohon agar Allah SWT menurunkan hujan, terutama ketika suatu wilayah mengalami kekeringan. Pelaksanaan salat ini menjadi refleksi kepasrahan dan harapan warga Kalbar agar musibah kekeringan dan bencana asap segera berakhir.
Polda Kalimantan Barat mengerahkan personelnya untuk membantu kelancaran kegiatan tersebut. Kabid Humas Polda Kalbar, Kombes Pol.zadoel K., menyatakan bahwa pihaknya siap mendukung penuh kegiatan keagamaan yang bertujuan positif bagi masyarakat. “Kami siap mendukung penuh kegiatan keagamaan yang positif, ini adalah bentuk kepedulian kita terhadap situasi yang terjadi saat ini,” ujarnya.
Bencana karhutla di Kalimantan Barat telah berlangsung cukup lama dan menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat. Kabut asap yang diakibatkan oleh kebakaran lahan gambut dan hutan ini bahkan telah merambah ke beberapa wilayah tetangga.
Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi peningkatan titik panas (hotspot) di wilayah Kalimantan Barat. Peningkatan suhu udara dan minimnya curah hujan menjadi faktor utama meluasnya kebakaran.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat juga terus berupaya memadamkan api di berbagai titik lokasi kebakaran. Operasi pemadaman dilakukan baik melalui jalur darat maupun udara dengan menggunakan helikopter water bombing. Namun, luasnya area yang terbakar dan kondisi geografis yang sulit menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanggulangan.
