Pemerintah Thailand meluncurkan serangkaian insentif fiskal dan non-fiskal yang agresif untuk menarik investasi baru di sektor manufaktur otomotif. Kebijakan ini bertujuan untuk memperkuat posisi Thailand sebagai pusat produksi kendaraan di kawasan Asia Tenggara, terutama di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Langkah strategis ini mencakup pemangkasan tarif cukai dan berbagai bentuk dukungan investasi lainnya yang dirancang untuk menggaet produsen mobil kelas dunia. Menteri Perindustrian Thailand, Pimphattra Wichaikul, menyatakan optimismenya bahwa insentif ini akan memberikan daya tarik signifikan bagi para investor.
Salah satu fokus utama dari kebijakan baru ini adalah pemberian insentif pajak yang menarik. Pemerintah Thailand berencana untuk menawarkan pembebasan bea masuk untuk komponen kendaraan listrik (EV) serta pengurangan tarif cukai untuk kendaraan listrik yang diproduksi di dalam negeri. Selain itu, insentif investasi yang lebih luas juga disiapkan, termasuk dukungan dalam hal infrastruktur dan fasilitas pendukung lainnya.
Pemerintah Thailand menargetkan produksi sebanyak 100.000 unit kendaraan listrik per tahun sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Untuk mencapai target ambisius ini, mereka siap menggelontorkan dana sekitar 7,2 miliar baht (sekitar Rp 3,1 triliun) untuk mendukung produksi kendaraan listrik hingga tahun 2030. Dana ini akan dialokasikan untuk berbagai program, termasuk subsidi bagi produsen dan konsumen.
Selain insentif untuk kendaraan listrik, Thailand juga terus berupaya mempertahankan posisinya di pasar kendaraan konvensional. Kebijakan insentif yang ditawarkan mencakup pembebasan bea masuk untuk impor komponen kendaraan bermotor dan tarif cukai yang lebih rendah untuk kendaraan yang diproduksi di Thailand. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung seluruh spektrum industri otomotif, baik yang berbasis teknologi baru maupun yang sudah mapan.
Kementerian Perindustrian Thailand telah menjadwalkan pertemuan dengan perwakilan dari produsen mobil besar seperti Toyota, Honda, Isuzu, dan Mitsubishi pada bulan November 2023 untuk memaparkan secara detail mengenai kebijakan baru ini. Diharapkan, dialog ini akan membuka jalan bagi negosiasi lebih lanjut dan komitmen investasi dari para pemain utama industri otomotif global.
Pemerintah Thailand meyakini bahwa insentif yang ditawarkan ini akan mampu menarik pabrik-pabrik otomotif baru, termasuk yang bergerak di bidang kendaraan listrik, untuk beroperasi di negara tersebut. Strategi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Thailand untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
