Suara dentuman misterius yang terdengar di wilayah Bandung dan sekitarnya pada tanggal 17 September 2023 lalu akhirnya terungkap. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengkonfirmasi bahwa suara tersebut kemungkinan besar berasal dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Fenomena ini tentu menimbulkan pertanyaan, bagaimana mungkin suara letusan gunung berapi yang berlokasi di Selat Sunda bisa merambat sejauh ratusan kilometer hingga terdengar jelas di Kota Bandung? PVMBG memberikan penjelasan rinci mengenai mekanisme perambatan suara tersebut.
Menurut PVMBG, suara letusan gunung berapi memang dapat merambat dalam jarak yang sangat jauh. Perambatan suara ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, terutama kondisi atmosfer. “Gelombang suara dari letusan gunung berapi dapat merambat hingga ratusan kilometer, tergantung pada kondisi atmosfer saat itu,” ujar PVMBG dalam keterangan resminya.
Faktor-faktor seperti kecepatan angin, suhu udara, dan kelembaban udara memegang peranan penting dalam menentukan seberapa jauh dan seberapa jelas suara tersebut dapat terdengar. Pada kondisi atmosfer tertentu, lapisan udara dengan suhu dan kepadatan yang berbeda dapat bertindak seperti ‘pembawa’ gelombang suara, memantulkan dan mengarahkannya ke jarak yang lebih jauh.
PVMBG menjelaskan bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau memang tercatat mengalami erupsi pada tanggal 17 September 2023. “Tercatat terjadi 1 kali letusan dengan tinggi kolom abu teramati ± 1.000 meter di atas puncak,” papar PVMBG, merujuk pada data aktivitas gunung berapi tersebut.
Suara dentuman yang dilaporkan oleh warga Bandung dan sekitarnya ini, menurut PVMBG, sangat mungkin merupakan gelombang suara dari letusan tersebut yang merambat melalui atmosfer. Jarak antara Gunung Anak Krakatau dengan Kota Bandung yang mencapai ratusan kilometer, ditambah dengan kondisi atmosfer yang mendukung, memungkinkan suara tersebut untuk didengar.
Lebih lanjut, PVMBG terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau secara intensif untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat. Status aktivitas gunung berapi ini saat ini berada pada Level III atau Siaga.
