Sentimen Pasar Keuangan RI Bergolak: IHSG Merah, Rupiah Tertekan Dolar AS

Emanuel

Pasar keuangan Indonesia menunjukkan pergerakan yang kontras pada perdagangan Senin (6/7/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit dari tekanan sesi awal, ditutup menguat. Namun, sebaliknya, nilai tukar rupiah kembali tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

IHSG menutup perdagangan di level 5.916,07 poin. Angka ini naik 0,69% atau setara 40,29 poin. Penguatan ini didorong oleh mayoritas saham yang menghijau. Sebanyak 386 saham tercatat menguat, berbanding 242 saham yang melemah dan 155 lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan bursa juga terpantau ramai. Volume transaksi mencapai 19,8 miliar saham. Nilai transaksi menembus Rp9,50 triliun. Transaksi tersebut dilakukan melalui 1,6 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat sebesar Rp10.379 triliun.

Sembilan dari sebelas sektor industri ditutup positif. Sektor konsumer siklikal memimpin kenaikan dengan 1,26%. Investor asing mencatat aksi jual bersih (net sell) senilai Rp190,9 miliar. Sektor energi menjadi satu-satunya yang berakhir di zona merah.

Penguatan IHSG ditopang saham-saham berkapitalisasi besar. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi kontributor utama. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turut mendongkrak indeks.

Di pasar mata uang, rupiah kembali menghadapi tekanan dolar AS. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,22% menjadi Rp17.985 per dolar AS. Sejak awal perdagangan, rupiah sudah berada di zona negatif.

Rupiah dibuka melemah 0,12% ke level Rp17.970 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga rupiah sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS saat perdagangan intraday. Namun, menjelang akhir sesi, rupiah berhasil memangkas pelemahan.

Indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,17% ke level 101,030. Indeks ini mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia.

Sementara itu, pasar obligasi menunjukkan tren berbeda. Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,146%. Angka ini turun dari 7,153% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang melandai mengindikasikan kenaikan harga SBN. Hal ini terjadi karena meningkatnya minat investor untuk membeli SBN.

Proyeksi pasar keuangan Indonesia ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi tekanan eksternal. Analisis lebih lanjut mengenai sentimen pasar dapat disimak dalam ulasan terpisah.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All