Iran menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat akibat sanksi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan penurunan drastis dalam aktivitas perdagangan negara tersebut, dengan angka ekspor dan impor anjlok hingga 35%. Situasi ini diperparah dengan ancaman AS untuk memutus akses dolar Iran melalui bank-bank di Uni Emirat Arab, khususnya Banque Misr.
Menurut laporan Kementerian Perindustrian, Pertambangan, dan Perdagangan Iran, total nilai perdagangan luar negeri Iran, tidak termasuk minyak, mencapai USD 67,1 miliar pada periode delapan bulan pertama tahun kalender Iran 1402 (Maret 2023 hingga November 2023). Angka ini merupakan penurunan signifikan sebesar 35% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Secara rinci, nilai ekspor non-minyak Iran tercatat sebesar USD 32,2 miliar, sementara impor mencapai USD 34,9 miliar. Penurunan ini mencakup berbagai sektor, mengindikasikan dampak luas dari kebijakan ekonomi yang diambil Iran untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS di tengah sanksi yang terus diperketat.
Di sisi lain, Amerika Serikat terus menunjukkan ketegasan dalam menerapkan sanksi terhadap Iran. Laporan dari Reuters mengindikasikan bahwa AS mengancam akan memutus akses Iran terhadap dolar AS yang mengalir melalui sistem keuangan Uni Emirat Arab (UEA). Salah satu institusi yang menjadi sorotan adalah Banque Misr, sebuah bank yang berbasis di UEA.
Ancaman ini menjadi pukulan telak bagi upaya Iran untuk memitigasi dampak sanksi. Dengan membatasi akses terhadap dolar, AS berupaya melumpuhkan kemampuan Iran untuk melakukan transaksi internasional, terutama dalam perdagangan barang dan jasa. Kebijakan ini sejalan dengan strategi AS untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Pemerintah Iran sendiri telah berupaya melakukan diversifikasi perdagangan dan mencari alternatif transaksi keuangan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar. Namun, langkah-langkah tersebut tampaknya belum sepenuhnya efektif dalam menahan laju penurunan volume perdagangan yang signifikan ini.
