Sunday, 30 August 2026
BREAKING
BERITA

Rusia Uji Coba Rudal Balistik Antarbenua Berkekuatan Nuklir

Oleh Emanuel August 30, 2026 52 minutes lalu 0 komentar

Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (25/10/2022) memantau langsung peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) yang dilaporkan memiliki kemampuan nuklir. Uji coba ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan global, terutama terkait dengan situasi di Ukraina.

Rudal yang diluncurkan adalah jenis RS-28 Sarmat, sebuah sistem rudal balistik antarbenua yang memiliki ciri khas berbahan bakar padat dan bersifat mobil. Keberadaan rudal ini disebut-sebut sebagai bagian dari upaya Rusia untuk memperkuat kapabilitas pertahanan dan pencegahan strategisnya.

Menurut kantor berita Interfax, peluncuran rudal RS-28 Sarmat dilaksanakan dari Kosmodrom Vostochny di Timur Jauh Rusia. Lokasi ini menjadi salah satu fasilitas utama untuk berbagai uji coba antariksa dan militer Rusia. Interfax juga melaporkan bahwa rudal tersebut berhasil mencapai targetnya di Semenanjung Kamchatka.

Dalam pernyataannya, Presiden Putin menekankan bahwa uji coba ini menegaskan keunggulan teknologi militer Rusia. Ia menambahkan, “Rudal RS-28 Sarmat akan memastikan keamanan Rusia dan mencegah ancaman dari pihak lain.” Putin juga menyatakan bahwa pengembangan rudal ini merupakan respons terhadap langkah-langkah negara-negara Barat yang dianggap mengancam keamanan nasional Rusia.

Rudal RS-28 Sarmat, yang dijuluki “Satan II” oleh NATO, merupakan salah satu senjata paling kuat dalam persenjataan Rusia. Rudal ini mampu membawa hulu ledak nuklir multipel (MIRV) dan memiliki jangkauan yang sangat luas, mampu mengenai sasaran di belahan dunia manapun. Sifatnya yang mobil juga memberikan keunggulan taktis karena lebih sulit dideteksi dan dilacak oleh sistem pertahanan musuh.

Uji coba rudal balistik antarbenua ini terjadi pada saat hubungan Rusia dengan negara-negara Barat berada pada titik terendah pasca-invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Beberapa negara NATO telah menyatakan keprihatinan atas uji coba tersebut, menganggapnya sebagai eskalasi yang berpotensi meningkatkan risiko konflik nuklir.

Bagikan: Facebook X WhatsApp