Rusia dilaporkan mulai meningkatkan volume pengiriman minyak mentah ke Asia melalui Jalur Laut Utara (Northern Sea Route/NSR). Perubahan rute ekspor ini berpotensi mengurangi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital bagi pengiriman minyak global.
Peningkatan aktivitas pengiriman minyak Rusia melalui Arktik ini terungkap dari data yang dikumpulkan oleh Kpler, sebuah firma intelijen pasar energi. Menurut Kpler, pada bulan Januari 2024 saja, Rusia mengekspor rata-rata 3,3 juta barel per hari melalui rute laut tersebut. Angka ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan rata-rata 1,7 juta barel per hari pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pergeseran rute ini merupakan strategi Rusia untuk mengatasi sanksi Barat dan mencari pasar baru bagi komoditas energinya. Dengan memanfaatkan Jalur Laut Utara yang semakin terbuka akibat perubahan iklim, Rusia dapat mengirimkan minyaknya ke negara-negara Asia, seperti Tiongkok dan India, dengan waktu tempuh yang lebih efisien.
Analisis Kpler menunjukkan bahwa lonjakan ekspor minyak Rusia melalui Arktik ini berdampak langsung pada lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Selat yang terletak di antara Oman dan Iran ini merupakan jalur pelayaran yang sangat strategis, dilintasi oleh sekitar sepertiga pasokan minyak mentah global yang dikirim melalui laut. Dengan semakin banyaknya minyak Rusia yang dialihkan ke Arktik, volume kapal tanker yang melewati Selat Hormuz diperkirakan akan mengalami penurunan.
Meskipun demikian, para ahli mengingatkan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi jalur krusial bagi perdagangan energi global. Perubahan yang terjadi saat ini lebih merupakan penyesuaian strategis dari sisi produsen minyak seperti Rusia, bukan indikasi hilangnya peran vital Selat Hormuz secara permanen. Faktor-faktor geopolitik dan permintaan pasar energi di Asia akan terus membentuk dinamika pengiriman minyak di masa mendatang.
