Pontianak, Kalimantan Barat – Ribuan warga di Pontianak, Kalimantan Barat, menggelar salat Istisqa pada Kamis (26/9/2019) sebagai upaya memohon turunnya hujan. Aksi ibadah ini dilaksanakan di tengah kondisi kemarau panjang yang melanda wilayah tersebut, diperparah dengan pekatnya kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pelaksanaan salat Istisqa ini merupakan inisiatif dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Barat. Bertempat di Lapangan Kodam XII/Tanjungpura, ribuan jamaah dari berbagai elemen masyarakat tumpah ruah memadati area tersebut sejak pagi hari. Suasana khusyuk terasa saat imam memimpin doa, diiringi tangisan dan rintihan jamaah yang memohon ampunan serta memohon agar Allah SWT segera menurunkan rahmat-Nya berupa hujan.
Imam Besar Masjid Raya Mujahidin Pontianak, KH. Drs. H. Abdul Hamid, Lc., M.A., dalam khutbahnya menyampaikan bahwa salat Istisqa adalah cara umat Islam memohon hujan ketika dilanda kekeringan. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa bertaubat dan meningkatkan amal ibadah. “Marilah kita bersama-sama memohon ampunan kepada Allah SWT, karena kekeringan dan bencana yang melanda ini bisa jadi merupakan teguran dari-Nya,” ujar KH. Abdul Hamid.
KH. Abdul Hamid juga menekankan pentingnya menjaga lingkungan dan tidak melakukan pembakaran lahan. “Kita harus menyadari bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Jangan lagi ada oknum-oknum yang membakar lahan, karena dampaknya sangat merugikan kita semua,” tegasnya.
Kegiatan salat Istisqa ini mendapat sambutan positif dari masyarakat. Banyak warga yang mengaku lega setelah bisa melaksanakan ibadah tersebut. “Alhamdulillah, kami bisa melaksanakan salat Istisqa ini. Semoga doa kita terkabul dan hujan segera turun untuk membasahi bumi Kalimantan Barat, serta mengusir kabut asap yang sudah sangat mengganggu ini,” ujar salah seorang jamaah, Siti Aminah (45), warga Pontianak.
Selain MUI, kegiatan ini juga didukung oleh berbagai organisasi Islam dan elemen masyarakat lainnya. Pelaksanaan salat Istisqa ini diharapkan dapat menjadi momentum kebangkitan spiritual bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan senantiasa memohon pertolongan Tuhan.
