Tirana, Albania – Ribuan warga Albania turun ke jalan di Tirana pada Kamis (25/1/2024) untuk menyuarakan protes keras terhadap dugaan korupsi dalam sebuah proyek resor yang melibatkan keluarga menantu Perdana Menteri Edi Rama. Massa menuntut agar Rama segera mengundurkan diri dari jabatannya.
Bentrokan pecah antara demonstran dan aparat kepolisian saat aksi unjuk rasa yang awalnya berjalan damai berubah ricuh. Massa melemparkan benda-benda ke arah gedung pemerintahan, memicu respons dari pihak kepolisian yang berusaha membubarkan kerumunan.
Inti dari kemarahan publik terletak pada proyek pembangunan resor mewah di wilayah pesisir Albania yang diduga kuat melibatkan perusahaan milik pacar putri Perdana Menteri Rama. Laporan investigasi yang dirilis oleh jurnalis investigatif Albania, Artan Hoxha, mengungkap adanya dugaan penyalahgunaan dana publik dan kolusi dalam pemberian izin proyek tersebut. Hoxha mengungkapkan, “Ada indikasi kuat adanya permainan dalam proses tender dan pemberian izin untuk proyek resor tersebut.”
Protes ini bukan hanya sekadar menuntut pertanggungjawaban atas dugaan korupsi, tetapi juga mencerminkan kekecewaan publik terhadap kepemimpinan Edi Rama yang dianggap gagal memberantas praktik korupsi di pemerintahan. Massa mengkhawatirkan dampak jangka panjang dari proyek tersebut terhadap lingkungan dan ekonomi lokal, di samping isu transparansi dan akuntabilitas yang dipertanyakan.
Salah seorang demonstran, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan, “Kami lelah melihat pejabat negara dan keluarga mereka memperkaya diri sendiri dengan mengorbankan rakyat. Kami menuntut keadilan dan pemerintahan yang bersih.” Lebih lanjut, ia menambahkan, “Proyek resor ini adalah puncak dari segalanya. Kami tidak bisa diam saja melihat kekayaan negara dikuras habis.”
Pihak kepolisian menyatakan telah melakukan penangkapan terhadap beberapa individu yang dianggap provokator. Namun, para pengunjuk rasa berjanji akan terus melanjutkan aksi mereka hingga tuntutan mereka dipenuhi. Situasi di Tirana dilaporkan masih tegang pasca bentrokan tersebut.
