Thursday, 3 September 2026
BREAKING
BERITA

Putin Buka Pintu Dialog, Damai dengan Ukraina Masih Mungkin Meski Ada Tuduhan Terorisme

Oleh Emanuel September 3, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Presiden Rusia Vladimir Putin secara mengejutkan menyatakan bahwa peluang perdamaian dengan Ukraina masih terbuka. Pernyataan ini disampaikan di tengah tuduhan Putin terhadap Kyiv yang disebutnya sebagai pelaku “terorisme negara”. Pernyataan tersebut mengindikasikan adanya celah diplomasi di tengah konflik yang terus berlanjut.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh televisi pemerintah Rusia pada Minggu (19/3/2023), Putin menyoroti bahwa pihak Ukraina masih memiliki ‘kemauan politik’ untuk menyelesaikan konflik. Ia juga menambahkan bahwa Rusia tidak pernah menolak negosiasi perdamaian. “Kami selalu mengatakan ini, dan saya ulangi: kami tidak pernah menolak negosiasi perdamaian,” ujar Putin.

Meskipun demikian, Putin menegaskan bahwa upaya perdamaian tersebut tidak terlepas dari kenyataan yang ada. Ia melontarkan tuduhan bahwa otoritas Ukraina bertanggung jawab atas apa yang disebutnya sebagai “terorisme negara”. Tuduhan ini merujuk pada serangkaian insiden yang diklaim Rusia sebagai tindakan terorisme yang disponsori oleh Kyiv. Putin juga mengaitkan tindakan ini dengan upaya Ukraina untuk menyerang objek di wilayah Rusia, termasuk wilayah Krimea yang telah dianeksasi.

Lebih lanjut, Putin mengungkapkan bahwa proses negosiasi sebelumnya, yang berlangsung di awal invasi Rusia pada Februari 2022, dihentikan atas permintaan pihak Ukraina. Ia mengklaim bahwa pada saat itu, ada kesepakatan yang hampir tercapai, namun kemudian dibatalkan oleh Ukraina. “Mereka (Ukraina) telah diinstruksikan oleh Barat untuk menghentikan negosiasi,” kata Putin, tanpa menyebutkan secara spesifik pihak Barat yang dimaksud.

Pernyataan Putin ini muncul beberapa hari setelah ia bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Moskow pada Selasa (21/3/2023). Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas upaya penyelesaian konflik di Ukraina. Tiongkok sendiri telah mengajukan proposal berisi 12 poin untuk mengakhiri perang, yang menekankan pentingnya kedaulatan dan integritas teritorial semua negara, serta menyerukan diakhirinya sanksi unilateral.

Reaksi dari pihak Ukraina terhadap pernyataan terbaru Putin belum sepenuhnya jelas. Namun, sebelumnya, para pejabat Ukraina secara konsisten menyatakan bahwa negosiasi hanya dapat dilakukan setelah pasukan Rusia sepenuhnya menarik diri dari wilayah Ukraina, termasuk Krimea. Pernyataan Putin ini setidaknya membuka kembali diskusi mengenai kemungkinan adanya jalur diplomasi, meskipun perbedaan pandangan mendasar antara kedua belah pihak masih sangat lebar.

Bagikan: Facebook X WhatsApp