Pubertas Dini Meningkat: Dokter Kandungan Soroti Ancaman Gangguan Hormon pada Anak

Rini Widiyarti

Fenomena anak mengalami pubertas sebelum waktunya atau pubertas dini semakin marak terjadi di masyarakat. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan tenaga medis, khususnya dokter spesialis obstetri dan ginekologi, yang mewaspadai adanya potensi gangguan hormonal. Perubahan fisik yang terlalu cepat ini tidak hanya membingungkan orang tua, tetapi juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan jangka panjang.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dari Prodia Women’s Health Centre Jakarta, dr. Ratna Dewi Puspita Sari, Sp.OG, mengemukakan bahwa peningkatan kasus pubertas prekoks atau pubertas dini pada anak belakangan ini semakin terasa. "Memang sekarang makin banyak pubertas prekoks terjadi. Jadi jangan bingung kalau anak sekarang masih kecil, tetapi perilakunya terlihat lebih dewasa," ujar dr. Ratna saat peresmian Prodia Women’s Health Centre dan Premium Service Prodia Health Care Kramat, Sabtu (20/6/2026).

Pubertas dini didefinisikan sebagai perkembangan fisik menuju kedewasaan yang terjadi jauh lebih awal dari usia rata-rata. Dalam istilah awam, kondisi ini sering disebut sebagai ‘puber sebelum waktunya’. Salah satu indikator paling kentara dari fenomena ini adalah semakin mudanya usia anak perempuan mengalami menstruasi pertama. Jika pada umumnya menstruasi terjadi pada rentang usia 11 hingga 12 tahun, kini banyak kasus di mana anak perempuan sudah mengalami menstruasi pada usia 8 hingga 9 tahun, bahkan ada yang lebih muda.

"Mungkin kalau dulu kita menstruasi pada usia 12 tahun atau 13 tahun. Namun sekarang ada anak usia 7 tahun atau 8 tahun yang sudah menstruasi. Begitu juga pada anak laki-laki. Jadi memang pubertasnya jauh lebih cepat," jelas dr. Ratna.

Penyebab pubertas dini tidaklah tunggal dan tidak melulu disebabkan oleh pola makan semata. Faktor genetik memegang peranan penting, termasuk kemungkinan adanya kecenderungan kadar hormon tertentu yang sudah tinggi sejak anak masih dalam kandungan. Paparan hormon estrogen yang tinggi sejak dini ini dapat memicu akselerasi proses pubertas.

"Jadi saat ibu mengandung, produksi hormon tertentu sudah mulai memengaruhi kondisi calon anak yang ada di dalam kandungan," terang dr. Ratna. Ia menambahkan bahwa berdasarkan pemeriksaan hormon pada sebagian individu, sering ditemukan kadar hormon dasar atau basic hormonal level yang menunjukkan tingkat estrogen lebih tinggi.

Kondisi ini menegaskan pentingnya pemantauan kesehatan hormonal anak, baik sebelum program kehamilan maupun selama masa tumbuh kembang. Pemeriksaan hormon menjadi krusial untuk menentukan intervensi nutrisi yang tepat dan sesuai. "Otomatis saat memberikan nutrisi kepada anak, kita harus tahu juga sebenarnya level hormon anak berada di mana. Jangan sampai makanan yang diberikan justru mengubah komposisi hormon di dalam tubuh," paparnya.

Lebih lanjut, dr. Ratna mengingatkan bahwa tubuh anak yang terlihat lebih besar atau bongsor dibandingkan teman sebayanya belum tentu merupakan indikator kesehatan yang optimal. Orang tua perlu lebih waspada terhadap kemungkinan adanya gangguan hormonal yang tersembunyi. Gangguan hormonal ini dapat berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari aktivitas belajar, kelancaran siklus menstruasi, hingga stabilitas emosi.

Selain itu, dr. Ratna juga menyoroti peningkatan kasus penyakit autoimun yang belakangan ini semakin banyak ditemukan. Ia mengaitkan sebagian kasus autoimun dengan gangguan pada regulasi hormon dalam tubuh. Ketidakseimbangan hormonal dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, sehingga meningkatkan risiko terjadinya penyakit autoimun.

"Makanya sekarang makin banyak ditemukan penyakit autoimun. Banyak yang baru mengetahuinya setelah menjalani pemeriksaan. Di Prodia sendiri sudah tersedia paket pemeriksaan untuk mendeteksi autoimun," pungkasnya. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam mengenai kesehatan hormonal anak dan deteksi dini terhadap potensi gangguan menjadi langkah preventif yang sangat penting untuk menjaga tumbuh kembang optimal dan kesehatan jangka panjang mereka.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All