Sebuah studi psikologi mengungkap bahwa momen-momen kecil yang seringkali terabaikan, dijuluki sebagai ‘momen gagang pintu’, dapat menjadi pemicu utama keretakan hubungan percintaan. Keberanian terbesar terkadang bukan terletak pada pengakuan besar, melainkan pada kemampuan mengelola interaksi sehari-hari yang luput dari perhatian.
Psikolog Rina Amelia, M.Psi., menjelaskan bahwa ‘momen gagang pintu’ merujuk pada interaksi singkat namun krusial yang terjadi saat seseorang akan meninggalkan atau memasuki sebuah ruangan, seperti saat berpamitan sebelum pergi kerja atau menyapa saat pulang. Momen ini, meskipun terkesan sepele, menyimpan potensi besar untuk memperkuat atau justru merusak ikatan emosional pasangan.
Salah satu cara ‘momen gagang pintu’ dapat merusak hubungan adalah ketika salah satu pasangan menunjukkan sikap acuh tak acuh. Misalnya, saat pulang kerja, bukannya disambut dengan hangat, sang pasangan justru hanya bergumam tanpa menatap mata. Sikap ini, menurut Rina, dapat membuat pasangan merasa tidak dihargai dan tidak penting.
Ketidakpedulian terhadap detail kecil juga menjadi jebakan lain. Ketika seorang pasangan tidak mengingat atau memperhatikan hal-hal yang diungkapkan pasangannya sebelumnya, ini bisa menimbulkan perasaan bahwa komunikasi mereka tidak berarti. Hal ini dapat diilustrasikan ketika seseorang bercerita tentang masalah di kantor, namun saat momen berpamitan, pasangannya lupa menanyakan kelanjutannya.
Selain itu, mengabaikan kebutuhan emosional pasangan saat ‘momen gagang pintu’ juga sangat merusak. Jika salah satu pasangan sedang merasa sedih atau cemas, respons yang dingin atau terburu-buru saat akan pergi dapat memperburuk perasaannya. Sebaliknya, sentuhan singkat atau ucapan penyemangat bisa menjadi penopang emosional yang berarti.
Perbandingan yang tidak sehat dengan orang lain juga dapat terselip dalam momen singkat ini. Misalnya, membandingkan cara pasangan lain menyambut pasangannya yang pulang kerja dengan sikap pasangan sendiri. Perbandingan semacam ini hanya akan menumbuhkan rasa iri dan ketidakpuasan.
Kurangnya apresiasi terhadap usaha pasangan, sekecil apapun, merupakan faktor perusak lainnya. Ketika pasangan telah melakukan sesuatu yang baik, namun tidak ada ucapan terima kasih atau pengakuan, hal ini bisa membuat usaha tersebut terasa sia-sia. Momen sebelum beranjak dari rumah bisa menjadi kesempatan untuk mengucapkan terima kasih atas sarapan yang dibuatkan misalnya.
Ketidakmampuan untuk meminta maaf atau mengakui kesalahan, bahkan dalam interaksi sederhana, juga sangat mengikis keharmonisan. Jika ada sedikit perselisihan sebelum salah satu pasangan pergi, tidak adanya permintaan maaf atau klarifikasi dapat meninggalkan luka yang membekas.
Terakhir, Rina menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan jujur. Jika ada sesuatu yang mengganjal di hati, ‘momen gagang pintu’ bukanlah waktu yang tepat untuk menyimpannya. Namun, jika momen tersebut diisi dengan respons yang negatif dan defensif, maka ini menjadi sinyal bahaya bagi kelangsungan hubungan.
