Prancis Dihantam Gelombang Panas Ekstrem, 1.000 Nyawa Melayang dalam Sepekan

Heni Maulidya

PARIS – Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis sejak 24 Juni 2026 telah memicu krisis kesehatan serius. Data terbaru dari Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mencatat lonjakan kematian hingga 1.000 jiwa lebih tinggi dari angka normal dalam sepekan terakhir.

Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa mayoritas korban adalah warga lanjut usia di atas 65 tahun. Selain itu, tingkat kematian di rumah dilaporkan melonjak drastis hingga 40 persen selama periode cuaca panas yang mencekam ini.

Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, menegaskan bahwa ancaman kesehatan akibat fenomena ini belum sepenuhnya berakhir. Meskipun suhu di beberapa wilayah mulai menunjukkan penurunan, angka kematian masih berada di atas batas normal.

Pernyataan tersebut disampaikan Rist melalui media lokal BFMTV pada Senin (29/6/2026). Ia menekankan bahwa dampak sistemik dari gelombang panas masih membayangi masyarakat meski cuaca tampak mulai mendingin.

Tekanan pada sistem kesehatan nasional pun masih sangat tinggi. Layanan medis darurat Paris, SAMU, mencatat 80 kematian pada Sabtu (27/6/2026), di mana 30 kasus di antaranya disebabkan oleh serangan jantung.

Angka tersebut tercatat sedikit lebih rendah dibandingkan hari sebelumnya yang mencapai 109 kematian pada Jumat (26/6/2026). Meski begitu, otoritas memperingatkan bahwa angka ini hanya mencakup data darurat di Paris dan belum mencerminkan total korban di seluruh negeri.

Tragedi ini dipicu oleh gelombang panas yang tidak kunjung reda selama 11 hari berturut-turut. Kondisi ini membuat rumah sakit di berbagai wilayah Prancis kewalahan menghadapi pasien dengan keluhan penyakit akibat paparan panas ekstrem.

Situasi kian diperparah dengan fenomena cuaca ekstrem lainnya. Observatorium Keraunos mencatat lebih dari 127.000 sambaran petir menghantam Prancis pada Sabtu malam. Aktivitas listrik di udara ini paling intens terjadi di kawasan Paris hingga wilayah Hauts-de-France.

Hingga Senin (29/6/2026), badan meteorologi Meteo-France masih menetapkan status siaga oranye di 22 departemen. Wilayah tersebut mencakup ibu kota Paris, kawasan sekitarnya, serta sebagian wilayah di timur dan tenggara Prancis.

Menghadapi situasi ini, pemerintah Prancis terus memberikan peringatan keras kepada masyarakat. Warga, terutama lansia dan mereka yang tinggal sendirian, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah.

Hujan badai yang turun pada Minggu (28/6/2026) memang sedikit menurunkan suhu di beberapa titik. Namun, pihak berwenang memastikan bahwa masa kritis belum berakhir sepenuhnya bagi sistem kesehatan masyarakat Prancis.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All