Ancaman fenomena iklim El Nino kembali menghantui Indonesia. Para pakar dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi bahwa El Nino yang diperkirakan terjadi pada tahun 2026 berpotensi berkembang menjadi ‘Super El Nino’ yang jauh lebih ganas dibandingkan peristiwa serupa pada tahun 2023.
Perkembangan fenomena ini dinilai lebih agresif. Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Dr. Edvin Aldrian, menjelaskan bahwa El Nino tahun ini menunjukkan perkembangan yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan siklus El Nino pada tahun 2023. Prediksi ini mengindikasikan potensi peningkatan intensitas yang signifikan.
Menurut Dr. Edvin Aldrian, ada indikasi kuat bahwa El Nino kali ini akan mencapai kategori Super El Nino. “El Nino tahun ini berkembang jauh lebih cepat dari yang 2023. Kita sudah lihat di bulan Mei 2024, anomali suhu permukaan laut di Pasifik Tengah sudah lebih tinggi dari yang 2023,” ujar Dr. Edvin Aldrian dalam sebuah kesempatan.
Istilah ‘Super El Nino’ merujuk pada peristiwa El Nino dengan intensitas yang sangat kuat, yang dapat menimbulkan dampak iklim yang lebih ekstrem di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Peningkatan anomali suhu permukaan laut di Samudera Pasifik Tengah merupakan salah satu indikator utama dalam memprediksi kekuatan El Nino.
Perbandingan dengan tahun 2023 menjadi penting untuk memahami potensi bahaya yang lebih besar. Jika El Nino tahun 2023 telah memberikan dampak kekeringan dan peningkatan suhu di sebagian wilayah Indonesia, maka prediksi Super El Nino 2026 mengisyaratkan kemungkinan dampak yang lebih parah dan meluas. Hal ini perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat dalam upaya mitigasi dan adaptasi.
