Friday, 24 July 2026
BREAKING
BERITA

Potensi Ekonomi Bisnis Karbon dan Keanekaragaman Hayati: Peluang Masa Depan Indonesia

Oleh Emanuel July 24, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Indonesia memiliki peluang emas dalam mengembangkan bisnis berbasis karbon dan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang diproyeksikan akan menjadi pilar ekonomi masa depan. Potensi ini diungkapkan dalam sebuah diskusi yang menyoroti bagaimana kedua sektor tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.

Dalam sebuah webinar yang diselenggarakan oleh Katadata Insight Center pada 12 April 2023, para ahli sepakat bahwa bisnis karbon dan biodiversity bukan sekadar tren lingkungan, melainkan sebuah peluang ekonomi riil yang dapat memberikan keuntungan signifikan. Diskusi ini menghadirkan narasumber terkemuka, termasuk Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ir. Irvan Helmi, M.Sc., serta Direktur Eksekutif Indonesian Center for Environmental Law (ICEL) Dr. Adelina Galuh. Turut hadir pula Peneliti Utama Bidang Keanekaragaman Hayati LIPI (kini BRIN) Prof. Dr. Ir. Dede Setiadi, M.Sc., dan Direktur Eksekutif PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati.

Menurut Irvan Helmi, Indonesia sangat beruntung memiliki kekayaan alam yang melimpah, menjadikannya modal utama dalam pengembangan bisnis hijau. Ia menekankan bahwa saat ini Indonesia telah memiliki kerangka hukum yang mendukung, salah satunya adalah Undang-Undang Cipta Kerja yang membuka ruang bagi investasi di sektor lingkungan. “Peluang ekonomi masa depan ada di bisnis hijau, bisnis yang berbasis pada lingkungan,” ujar Irvan dalam acara tersebut.

Nicke Widyawati menambahkan bahwa Pertamina secara aktif mendorong pengembangan bisnis karbon. Perusahaan energi plat merah ini menargetkan untuk dapat meraup keuntungan sebesar US$3 miliar atau sekitar Rp45 triliun (dengan kurs Rp15.000 per dolar AS) dari bisnis karbon pada tahun 2030. “Kami sudah meluncurkan program Pertamina Go Green, yang meliputi pengembangan bisnis karbon, energi baru terbarukan, dan elektrifikasi,” jelas Nicke.

Lebih lanjut, Nicke menguraikan strategi Pertamina dalam mengembangkan bisnis karbon, yang akan difokuskan pada tiga pilar utama. Pertama, melalui pengembangan proyek-proyek penyerapan karbon (carbon capture) di fasilitas operasional Pertamina. Kedua, dengan melakukan diversifikasi bisnis ke sektor energi baru terbarukan, serta ketiga, melalui program elektrifikasi kendaraan bermotor. Pertamina juga berencana untuk mengoptimalkan potensi hutan mangrove di beberapa wilayah sebagai bagian dari strategi penyerapan karbon.

Sementara itu, Adelina Galuh dari ICEL mengingatkan pentingnya aspek keadilan dalam pengembangan bisnis karbon dan biodiversity. Ia menekankan bahwa masyarakat adat dan lokal harus dilibatkan dan mendapatkan manfaat yang adil dari setiap proyek yang dijalankan. “Penting untuk memastikan bahwa hak-hak masyarakat adat dan lokal dihormati dan dilindungi,” tegas Adelina.

Prof. Dede Setiadi dari BRIN menyoroti potensi ekonomi yang luar biasa dari keanekaragaman hayati. Ia menyebutkan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya genetik yang dapat dikembangkan menjadi produk-produk bernilai tambah, mulai dari obat-obatan hingga kosmetik. “Keanekaragaman hayati kita adalah harta karun yang belum sepenuhnya tergali potensinya untuk ekonomi berkelanjutan,” ungkap Prof. Dede.

Bagikan: Facebook X WhatsApp