PLN EPI Bidik 10 Juta Ton Biomassa Demi Energi Bersih dan Kemandirian Energi Nasional

Rini Widiyarti

Jakarta – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menargetkan penyerapan biomassa hingga 10 juta ton pada tahun 2030. Langkah ambisius ini merupakan bagian integral dari strategi perusahaan dalam mendorong pengembangan bioenergi sebagai pilar utama ketahanan energi nasional sekaligus mewujudkan target Net Zero Emissions (NZE) pada tahun 2060. Biomassa, yang berasal dari limbah pertanian dan perkebunan, diproyeksikan menjadi salah satu sumber energi krusial dalam bauran energi Indonesia di masa depan.

Direktur Biomassa PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir, mengungkapkan potensi biomassa nasional yang sangat besar dalam sebuah audiensi dengan Dewan Energi Nasional (DEN) baru-baru ini. Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya biomassa dari limbah agro yang melimpah, diperkirakan mencapai sekitar 80 juta ton per tahun. Namun, pemanfaatan limbah ini saat ini masih terbilang rendah, baru sekitar 20 juta ton. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar biomassa yang terpakai justru dialihkan untuk kebutuhan ekspor dan industri, bukan untuk pemenuhan energi domestik.

"Pada tahun 2025, PLN baru menyerap sekitar 2,35 juta ton biomassa untuk kebutuhan pembangkit listrik. Sementara itu, ekspor biomassa sudah mencapai sekitar 8,5 juta ton, dan sisanya diserap oleh sektor industri. Data ini menunjukkan bahwa potensi bioenergi nasional masih sangat besar untuk dioptimalkan demi kepentingan dalam negeri," jelas Hokkop dalam keterangan resminya pada Sabtu, 20 Juni 2026. Pernyataannya menggarisbawahi urgensi untuk memprioritaskan pemanfaatan sumber daya alam ini untuk kemandirian energi nasional dan pengurangan emisi.

Sejalan dengan pandangan PLN EPI, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Johni Jonathan Numberi, menekankan peran vital biomassa dalam transisi energi Indonesia menuju NZE 2060. Ia menuturkan bahwa pemerintah telah menetapkan energi baru terbarukan sebagai tulang punggung sistem energi masa depan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025. Dalam kerangka kebijakan tersebut, biomassa diproyeksikan akan mengalami peningkatan pemanfaatan yang signifikan, sejajar dengan energi surya dan gas bumi.

"Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) kita saat ini memiliki rata-rata umur ekonomis operasi yang panjang. Oleh karena itu, penerapan teknologi cofiring biomassa menjadi langkah strategis yang sangat penting. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secara drastis, tetapi juga untuk menjaga keandalan pasokan listrik nasional yang selama ini sangat bergantung pada PLTU," ujar Johni. Ia menambahkan bahwa cofiring merupakan solusi efisien untuk memanfaatkan infrastruktur pembangkit yang sudah ada sambil bertransformasi menuju energi yang lebih bersih.

Pemanfaatan biomassa sebagai bahan bakar alternatif dalam PLTU melalui teknologi cofiring (pembakaran bersama) menjadi solusi yang semakin relevan. Dengan mencampurkan biomassa dengan batu bara, emisi karbon dari operasional PLTU dapat ditekan secara signifikan. Hal ini sejalan dengan komitmen Indonesia untuk mengurangi jejak karbon dan berkontribusi pada upaya global dalam mengatasi perubahan iklim. Selain itu, strategi ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, terutama di sektor pertanian dan kehutanan, melalui penyediaan pasokan biomassa yang berkelanjutan.

Pengembangan bioenergi juga sejalan dengan potensi sumber daya alam Indonesia yang melimpah. Limbah pertanian seperti sekam padi, tongkol jagung, bagasse dari tebu, hingga limbah perkebunan kelapa sawit, semuanya dapat diolah menjadi biomassa bernilai energi tinggi. PLN EPI sendiri aktif menjajaki berbagai sumber biomassa, termasuk potensi sorgum yang terus dikembangkan sebagai sumber energi terbarukan. Upaya ini mencerminkan diversifikasi sumber energi yang dilakukan PLN untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Potensi biomassa yang belum tergarap ini membuka peluang besar untuk diversifikasi portofolio energi Indonesia. Dengan meningkatkan penyerapan biomassa domestik, Indonesia tidak hanya dapat mengurangi impor bahan bakar fosil, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, mendorong perekonomian daerah, dan mengurangi masalah penumpukan limbah pertanian. Investasi dalam teknologi pengolahan biomassa dan infrastruktur pendukungnya menjadi kunci untuk memaksimalkan potensi ini.

Lebih lanjut, pengembangan industri bioenergi ini diharapkan dapat mendorong inovasi teknologi dalam pengelolaan limbah dan produksi energi terbarukan. Kolaborasi antara PLN EPI, pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat akan menjadi elemen krusial dalam memastikan keberlanjutan rantai pasok biomassa, mulai dari penanaman, pengumpulan, pengolahan, hingga pemanfaatan di pembangkit listrik. Dengan target yang jelas, PLN EPI menunjukkan keseriusannya dalam memanfaatkan bioenergi untuk mewujudkan masa depan energi yang lebih hijau dan mandiri bagi Indonesia.

Transisi menuju energi terbarukan, termasuk bioenergi, merupakan tantangan sekaligus peluang besar bagi Indonesia. Dengan dukungan kebijakan yang kuat, investasi yang tepat, dan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan, target penyerapan biomassa 10 juta ton pada tahun 2030 bukan hanya sekadar angka, melainkan sebuah langkah konkret menuju kemandirian energi dan keberlanjutan lingkungan. Keberhasilan PLN EPI dalam mengimplementasikan strategi ini akan menjadi tolok ukur penting bagi kemajuan energi terbarukan di Indonesia.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All