Piala Dunia edisi pertama dengan format 48 tim, yang baru saja usai di Amerika Utara, menyisakan catatan beragam. Turnamen yang dimenangkan oleh Spanyol setelah melakoni 104 pertandingan selama lima setengah minggu ini menunjukkan bahwa ambisi untuk memperluas kesempatan bagi lebih banyak negara untuk bermimpi meraih gelar juara dunia, seperti yang diungkapkan oleh mendiang Diego Maradona, memiliki sisi positifnya. Namun, kekhawatiran tentang potensi penurunan kualitas kompetisi, seperti yang pernah disampaikan oleh Joachim Löw saat masih menukangi timnas Jerman, juga terbukti memiliki dasar.
Keputusan FIFA untuk memperluas jumlah peserta Piala Dunia pria dari 32 menjadi 48 tim diumumkan tidak lama setelah Gianni Infantino mengambil alih jabatan Presiden dari Sepp Blatter. Inisiatif ini disambut dengan beragam reaksi. Maradona kala itu menyatakan kegembiraannya, melihatnya sebagai kesempatan bagi setiap negara untuk bermimpi dan menyalakan kembali gairah sepak bola di kancah internasional. Sebaliknya, Joachim Löw, yang saat itu memimpin Jerman sebagai juara dunia, menyuarakan keprihatinannya, “Saya tidak berpikir ini ide yang bagus untuk mengencerkan nilai olahraga… Dalam jangka panjang, kualitas akan menderita.”
Analisis terhadap penyelenggaraan Piala Dunia kali ini mengkonfirmasi bahwa kedua pandangan tersebut memiliki poinnya masing-masing. Di satu sisi, kehadiran tim-tim baru membuka peluang mimpi dan partisipasi yang lebih luas. Namun, di sisi lain, format yang diperluas ini juga memunculkan pertanyaan mengenai kedalaman kualitas pertandingan secara keseluruhan dan bagaimana hal tersebut akan berdampak pada masa depan turnamen terbesar di dunia tersebut. Apakah Piala Dunia di masa depan akan kembali berkembang menjadi 64 tim, menjadi pertanyaan yang patut direnungkan seiring evaluasi terhadap edisi kali ini.
