Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Amerika Serikat, sebuah negara yang dikenal sebagai pusat bisnis global namun tidak memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan sepak bola, sejatinya diproyeksikan sebagai perayaan kemenangan kapitalisme di dunia olahraga. Namun, di balik gemerlap stadion dan inovasi teknologi yang ditampilkan, para sponsor utama justru tengah berjuang menghadapi tantangan finansial yang signifikan. Perusahaan ritel, stasiun televisi, produsen bir, hingga perusahaan taruhan, yang selama ini menjadi tulang punggung finansial turnamen akbar ini, kini menunjukkan tanda-tanda penuaan dan kerentanan. Ironisnya, bagi beberapa korporasi raksasa, edisi Piala Dunia kali ini bisa jadi merupakan panggung terakhir mereka.
Meskipun harga tiket melambung tinggi dan kemunculan teknologi seperti "kembaran digital" pemain memberikan kesan futuristik layaknya sebuah konferensi teknologi, realitas bisnis di balik layar jauh dari gemilang. Fenomena ini mencerminkan pergeseran lanskap ekonomi dan preferensi konsumen yang semakin memengaruhi industri yang bergantung pada event olahraga besar.
Kemunduran para raksasa sponsor ini paling kentara terlihat di lapangan hijau. Di dada para pemain, logo-logo merek olahraga yang selama ini identik dengan kejayaan, kini mulai goyah. Adidas, yang mensponsori 14 dari 48 tim peserta, sedikit unggul dari Nike yang menaungi 12 tim, dan Puma dengan 11 tim. Namun, valuasi ketiga merek perlengkapan olahraga terkemuka ini justru mengalami penurunan dibandingkan pada Piala Dunia 2018. Saham Nike, misalnya, dilaporkan anjlok hingga 75% dari puncaknya pada tahun 2021, tergerus oleh persaingan ketat dari merek-merek baru seperti On dan Asics yang menawarkan inovasi dan daya tarik berbeda.
Para analis menilai penurunan performa industri apparel olahraga ini sebagian besar disebabkan oleh minimnya inovasi produk yang mampu merevolusi pasar. Bola "Trionda" dari Adidas dinilai kurang memberikan kesan mendalam, sementara dominasi warna merah muda pada desain sepatu tahun ini dianggap monoton. Lebih jauh lagi, inovasi baju "Aero-FIT" dari Nike dikritik karena sering kali tidak pas di badan, dengan detail jahitan bahu yang justru terlihat menonjol secara tidak wajar, mengurangi kenyamanan dan estetika bagi para atlet.
Perubahan format pertandingan yang kini dibagi menjadi empat kuarter, dengan dalih FIFA untuk mengakomodasi "Powerade Hydration Breaks" demi mengatasi cuaca panas, justru menuai kritik dari penggemar. Banyak yang menganggap jeda ini hanyalah celah tambahan untuk menyisipkan iklan televisi, sebuah strategi yang semakin menunjukkan ketidaksesuaian dengan tren konsumsi media saat ini.
Meski mendapat slot iklan yang lebih banyak, stasiun televisi linier justru berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Fox, salah satu pemegang hak siar utama di Amerika Serikat, harus menerima kenyataan bahwa sahamnya tersendat meskipun dipenuhi oleh penayangan iklan. Sejak penayangan perdananya, saham FOXA.O dilaporkan mengalami depresiasi ekstrem, turun sebesar 24,86% dari level 68,30 menjadi 51,32 dalam periode singkat. Situasi serupa juga dialami oleh saluran televisi lain di berbagai negara, seperti M6 di Prancis, ITV di Inggris, dan Telemundo di Amerika Serikat, yang masa kejayaan sahamnya telah berlalu bertahun-tahun silam. Era dominasi televisi linier dalam menyiarkan event olahraga besar mulai tergerus oleh perubahan perilaku audiens.
Industri minuman keras juga menghadapi tantangan baru yang signifikan. Meskipun jumlah pertandingan meningkat drastis menjadi 104 laga, yang seharusnya mendorong peningkatan konsumsi bir, tren penurunan konsumsi alkohol di kalangan anak muda menjadi kendala utama. Gaya hidup sehat semakin mendominasi, bahkan memengaruhi tim nasional yang dulunya identik dengan budaya minum. Para pemain kini lebih memilih perangkat pelacak kesehatan seperti Whoop atau cincin pintar Oura, yang bahkan diiklankan oleh figur penting seperti kapten tim nasional Inggris, Harry Kane.
Akibatnya, produsen bir terbesar di dunia hanya memproyeksikan peningkatan volume penjualan yang sangat minimal, sekitar 0,2% hingga 0,3%, dari gelaran Piala Dunia kali ini. Penjualan akhir sangat bergantung pada sejauh mana tim-tim unggulan mampu melaju di kompetisi. Eliminasi tak terduga dari tim favorit dapat memicu penumpukan stok berskala masif, yang tentu saja berdampak buruk pada keuntungan perusahaan.
Masa depan bisnis olahraga kini bergeser ke arah platform streaming dan pasar prediksi. Logika yang sama berlaku untuk industri perjudian. Meskipun raksasa industri seperti Flutter dan DraftKings memproyeksikan perputaran uang hingga US$2,4 miliar di Amerika Serikat, nilai saham mereka tetap mengalami penurunan signifikan sepanjang tahun ini. Perusahaan-perusahaan ini kini menghadapi ancaman langsung dari platform pasar prediksi yang menawarkan alternatif baru bagi para penggemar untuk terlibat dalam taruhan.
Mengamati transisi bisnis di Piala Dunia 2026 memberikan gambaran yang jelas tentang pergeseran kekuatan pasar. Platform pasar prediksi seperti Kalshi dan Polymarket, serta raksasa layanan streaming seperti Netflix dan Amazon, dinilai memiliki peluang kuat untuk menggantikan pemain lama yang mulai kehilangan relevansinya. Kesenjangan antara skala megah turnamen dan menurunnya dominasi televisi linier akan semakin terlihat jelas.
Satu hal yang tetap konsisten dalam dinamika bisnis Piala Dunia adalah dominasi FIFA. Siapa pun korporat yang terlibat, hak monopoli pengelolaan dan keuntungan besar tetap sepenuhnya berada di tangan badan sepak bola dunia tersebut. Perubahan lanskap bisnis ini menunjukkan bahwa, meskipun sepak bola tetap menjadi olahraga paling populer di dunia, cara perusahaan berinteraksi dan mendapatkan keuntungan dari event akbar seperti Piala Dunia terus berevolusi. Industri yang tidak mampu beradaptasi dengan cepat berisiko tertinggal, bahkan terancam gulung tikar.











